Rabu, 30 November 2011

KALIMAT EFEKTIF


Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipakai untuk menyampaikan informasi dari pembicara atau penulis kepada lawan bicara atau pembaca secara tepat. Ketepatan dalam penyampaian informasi akan membuahkan hasil, yaitu adanya kepahaman lawan bicara atau pembaca terhadap isi kalimat atau tuturan yang disampaikan. Lawan bicara atau pembaca tidak akan bisa menjawab, melaksanakan, atau menghayati setiap kalimat atau tuturan itu sebelum mereka dapat memahami benar isi kalimat atau tuturan tersebut.

Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:
1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:
· Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
· Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
2. Kontaminasi
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.
Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
3. Salah pemilihan kata
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
4. Salah nalar
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
· Bahasa asing
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:
Saya tinggal di Semarang di mana ibu saya bekerja.
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
I live in Semarang where my mother works.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di Semarang tempat ibu saya bekerja.
· Bahasa daerah
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:
Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Anak-anak sudah datang.
Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.
Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)
Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?
6. Kata depan yang tidak perlu
Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut:
Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi:
Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.

Ada beberapa hal yang mengakibatkan suatu tuturan menjadi kurang efektif, antara lain:
1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
Setiap tuturan terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat pada contoh berikut:
Program aplikasi MS Word dapat Anda gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah produk peranti lunak keluaran Microsoft.
Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan. Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut maknanya, misalnya:
· membicarakan tentang transmigrasi
Seharusnya: membicarakan transmigrasi
· sudah pada tempatnya apabila
Seharusnya: sudah selayaknya apabila
· Depresi ekonomi bukan hanya dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok elite pribumi.
Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok elite.
Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.
3. Kurang logis susunan gagasannya.
Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh berikut:
Karena zat putih telurnya itulah maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan hidupnya perlu akan zat putih telur.
Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.
4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
Pemakaian bahasa tidak baku hendaknya dihindari dalam ragam bahasa keilmuan.
· Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
· Sehubungan dengan hal itu Takdir Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional.
Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan mengucapkan dan mengatakan.
5. Konstruksi yang bermakna ganda.
Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada kalimat-kalimat:
· Istri kopral yang nakal itu membeli sepatu.
Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:
Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.
· Penyuluh menerangkan cara beternak ayam baru kepada para petani.
Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat berikut:
Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.
6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.
Dalam kalimat yang berisi perincian, satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar). Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:
· Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.
Seharusnya:
Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data.
· Dengan penghayatan yang sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Seharusnya:
Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Atau:
Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.


PEMBENTUKAN KATA


Ada banyak ragam pembentukan kata dalam Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata dibentuk dengan cara menggabungkan beberapa komponen yang berbeda. Untuk memahami cara pembentukan kata-kata tersebut kita sebaiknya mengetahui lebih dahulu beberapa konsep dasar dan istilah seperti yang dijelaskan di bawah ini. Untuk mempersingkat dan memperjelas  pembahasannya, kami menggunakan kata-kata yang tidak bersifat gramatikal atau teknis untuk menjelaskan kata-kata tersebut sebanyak mungkin. Kami tidak membahas tentang infiks (sisipan yang jarang digunakan), reduplikasi dan kata-kata majemuk yang berafiks. 
1.      Definisi Istilah
Kata dasar (akar kata) = kata yang paling sederhana yang belum memiliki imbuhan, juga dapat dikelompokkan sebagai bentuk asal (tunggal) dan bentuk dasar (kompleks), tetapi perbedaan kedua bentuk ini tidak dibahas di sini.
Afiks (imbuhan) = satuan terikat (seperangkat huruf tertentu) yang apabila ditambahkan pada kata dasar akan mengubah makna dan membentuk kata baru. Afiks tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada satuan lain seperti kata dasar. Istilah afiks termasuk prefiks, sufiks dan konfiks.
Prefiks (awalan) = afiks (imbuhan) yang melekat di depan kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
Sufiks (akhiran) = afiks (imbuhan) yang melekat di belakang kata dasar untuk membentuk kata baru dengan arti yang berbeda.
Konfiks (sirkumfiks / simulfiks) = secara simultan (bersamaan), satu afiks melekat di depan kata dasar dan satu afiks melekat di belakang kata dasar yang bersama-sama mendukung satu fungsi.
Kata turunan (kata jadian) = kata baru yang diturunkan dari kata dasar yang mendapat imbuhan.
Keluarga kata dasar = kelompok kata turunan yang semuanya berasal dari satu kata dasar dan memiliki afiks yang berbeda.
2.      Afiks Bahasa Indonesia yang Umum
a. prefiks:  ber-, di-, ke-, me-, meng-, mem-, meny-, pe-, pem-, peng-, peny-, per-, se-, ter-
b. sufiks:  -an, -kan, -i, -pun, -lah, -kah, -nya
c. konfiks:  ke - an, ber - an, pe - an, peng - an, peny - an, pem - an, per - an, se - nya
 3. Penggunaan Afiks
Mempelajari proses pembentukan kata-kata dan metode pembubuhan afiks merupakan kunci untuk memahami makna kata-kata turunan dan belajar membaca teks Bahasa Indonesia. Sebagian besar kata yang terdapat dalam surat kabar dan majalah Indonesia berafiks. Jika seseorang mengerti makna kata dasar, ia dapat mengerti makna sebagian besar kata yang berasal (diturunkan) dari kata dasar itu dengan menggunakan kaidah umum untuk masing-masing jenis afiks.
                Jika kita dapat menerima sedikit kekeliruan dalam penggunaan afiks, kita dapat menyederhanakan pembahasan tentang afiks (imbuhan). Dalam mengklasifikasikan jenis kata (nomina, verba, adjektiva, dan lain-lain) kami menggunakan kaidah pengklasifikasian kata menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Edisi Kedua - 1991) yang disusun dan diterbitkan oleh Pemerintah Indonesia. Penjelasan di bawah adalah untuk menguraikan hasil penambahan afiks (imbuhan) kepada kata dasar, bukan untuk menjelaskan bilamana afiks digunakan. Dalam kamus ini tidak diuraikan tentang asal kata dasar (etimologi). Perlu diperhatikan bahwa penjelasan di bawah ini lebih berhubungan dengan perbuatan (aksi) dalam suatu kalimat - siapa yang melakukan aksi itu, hasil perbuatan, arah perbuatan atau tindakan dan apakah tindakan itu merupakan fokus utama dalam kalimat atau bukan.

Sabtu, 02 Juli 2011

SEJARAH DAN CAKUPAN KAJIAN SOSIOLINGUISTIK

1. Sejarah Sosiolinguistik
Panini (500 SM) diyakini oleh banyak linguis sebagai pelopor pengkaji sosiolinguistik. Dalam karyanya yang berjudul Astadhayayi—satu buku yang berisi tentang stilistika bahasa—pengkajian sosiolinguistik mulai mendapat perhatian. Baru beberapa abad kemudian, tepatnya pada abad 19, Schuchardt, Hasseling, dan Van Name (1869-1897) untuk pertama kalinya memulai kajian tentang dialek bahasa pedalaman Eropa dan kontak bahasa yang menghasilkan bahasa campuran. Perkembangan kajian sosiolinguistik semakin menemukan titik cerah setelah de Saussure (1857-1913) berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah fakta sosial yang terdapat dalam masyarakat. Dalam hal ini, terdapat dua istilah yang masih populer hingga saat ini: langue dan parole. Tak lama berselang, langkah de Saussure ini ditindaklanjuti oleh beberapa sarjana bahasa Amerika Serikat, seperti Franz Boas, Edward Sapir, dan Leonard Bloomfield yang melakukan beberapa kajian bahasa, budaya, dan kognisi. Istilah sosiolinguistik digunakan pertama sekali oleh Harver Currie pada tahun 1952. Tokoh ini sebelumnya melihat kajian linguistik tidak memiliki perhatian terhadap realitas sosial. Setahun berikutnya, Weinreich (1953) menulis Language in Contact, yang diikuti dengan kemunculan karya-karya besar lain dalam bidang ini sehingga mulai saat itu sosiolinguistik menjadi ilmu yang mantap dan menarik perhatian banyak orang.
2. Fokus Kajian Sosiolinguistik
Secara umum, bahasa dipahami sebagai sistem tanda arbiter yang dipakai oleh manusia untuk tujuan komunikasi antara satu sama lain. Dengan demikian, konteks sosial dalam penggunaan bahasa menjadi sesuatu yang penting untuk dikaji. Menurut Chomsky, sosiolinguistik menyoroti segala yang dapat diperoleh dari bahasa, dengan cara apa pendekatan sosial dapat menjelaskan segala yang dikatakan dengan bahasa, oleh siapa, kepada siapa, pada saat kehadiran siapa, kapan dan di mana, atas alasan apa, dan dalam keadaan bagaimana. Sementara menurut Hymes (1971), perhatian sosiolinguistik tertuju pada kecakapan manusia dalam menggunakan bahasa dengan tepat dalam latar yang berbeda. Kajian-kajian sosiolinguistik bermanfaat untuk menyusun: (1) konsep dasar tentang guyub tutur; (2) variasi dan perubahan bahasa (dialek dan kelompok sosial); (3) kontak bahasa; (4) bahasa, kekuasaan, dan ketidaksetimbangan; (5) perencanaan, kebijakan, dan praktek bahasa; (6) bahasa dan pendidikan; (7) metode penelitian sosiolinguistik; (8) sosiolinguistik sebagai profesi.
3. Beberapa Pendekatan Ilmiah dalam Penelitian Bahasa
Ada beberapa pendekatan ilmiah yang menjadi pijakan dasar penelitian, termasuk dalam penelitian bahasa, sebagai berikut: (1) metode deduktif, yaitu penelitian bahasa yang dimulai dengan memperhatikan kebenaran abstrak bahasa yang berlaku universal, melalui perangkat aturan-aturan, hingga keberadaan fakta individual; (2) penjelasan probabilitas, yaitu penjelasan yang berupaya menjelaskan adanya hubungan sebuah bahasa tertentu atau varian bahasa tertentu dengan keanggotaan kelas sosioekonomi atau aspirasi pengguna bahasa tersebut; (3) penjelasan fungsional, yaitu penjelasan yang berupaya membuat korelasi antara bahasa dan struktur sosial; (4) penjelasan genetis, yaitu penjelasan tentang ‘hukum’ invarian dalam perkembangan bahasa manusia, sejak dari bahasa manusia prasejarah hingga ujud bahasa yang dipakai saat ini.
4. Cakupan Sosiolinguistik
Ada beberapa cakupan pembahasan dalam sosiolinguistik: (1) dialektologi dan sosiolinguistik. Dialektologi adalah kajian tentang dialek yang lebih memperhatikan fokus dan cognates daripada kebiasaan verbal yang menggunakan pendekatan diakronis. Di sisi lain, sosiolinguistik memiliki kecenderungan untuk mengadopsi pendekatan sinkronis, yang menghubungkan bentuk pilihan penutur bahasa dengan kriteria ekstralinguistik, serta memperhatikan kelompok sosial dan variabel bahasa yang digunakan; (2) retorika dan sosiolinguistik. Retorika bertujuan untuk menentukan metode persuasi yang paling baik untuk kemudian bertugas menjelaskannya. Di pihak lain, sosiolinguistik adalah deskripsi dan tujuan yang memuat keahlian-keahlian berbahasa. Perbedaan lainnya adalah, retorika berfokus pada fungsi persuasif bahasa, sementara sosiolinguistik berfokus pada kajian teks dan lisan yang berhubungan dengan topik apa saja dan memuat tujuan apapun; (3) sosiolinguistik mikro dan makro. Pendekatan sosiolinguistik mikro menekankan pada individu dalam interaksinya dalam kelompok kecil dan informal, sedangkan pendekatan sosiolinguistik makro menekankan pada level interaksi antar kelompok yang lebih besar. Sosiolinguistik mikro memperhitungkan karakteristik individu yang membedakannya dengan individu lain, sebaliknya sosiolingustik makro memperhitungkan distribusi perbedaan bahasa dalam masyarakat dan hubungannya dengan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan dan etnik penutur yang diteliti.

POKOK PEMBAHASAN SOSIOLINGUISTIK
Fishman (1971) mendefinisikan sosiolinguistik sebagai kajian mengenai karakteristik ragam bahasa, fungsi bahasa, dan penutur bahasa. Menurutnya, ketiga faktor itu dapat berubah, saling berinteraksi, dan memodifikasi satu dengan yang lain dalam masyarakat bahasa. Ada empat jenis hubungan antara bahasa dan masyarakat (Grimshaw, 1971), seperti berikut: (1) bahasa menentukan masyarakat; (2) struktur sosial menetukan bahasa; (3) adanya co-variance antara fakta sosial dan fakta bahasa; (4) bahasa dan masyarakat ditentukan oleh faktor lain, seperti budaya, struktur abstrak, atau hakikat biologis.
1. Pendekatan dalam Sosiolinguistik
Setidaknya ada tiga pendekatan yang bisa dikemukakan di sini: (1) pendekatan de Saussure. Menurutnya, konotasi dan variasi dalam bahasa dihubungkan oleh tuturan (speech) dan individu, bukan oleh bahasa dan masyarakat. Kesuksesan sebuah komunikasi karena adanya keseragaman dan homogenitas masyarakat dalam menggunakan kode yang sama; (2) pendekatan Labov yang menekankan pada variasi bahasa. Baginya, bahasa bersifat heterogen. Kesalahpahaman antar penutur dalam komunikasi muncul karena di antara mereka tidak memiliki latar belakang sosiokultural yang sama; (3) pendekatan variasi stilistika. Dalam pendekatan ini, variasi bahasa yang dipakai oleh seorang penutur dalam berkomunikasi disesuaikan dengan situasi yang dihadapi. 
2. Sosiolinguistik Mikro dan Sosiolinguistik Makro
Sosilinguistik mikro mengacu pada kajian mengenai gejala bahasa dalam konteks sosial yang ditandai oleh faktor-faktor makro yang tidak dapat tereduksi lagi. Tiga prinsip utama yang terdapat dalam hubungan interaksi antar individu dalam kelompok adalah sebagai berikut: (1) pencapaian interaksi dalam komunikasi; (2) akuisisi dan modifikasi kecakapan komunikatif; dan (3) sikap bahasa.
Adapun sosiolinguistik makro mengacu pada kajian mengenai fenomena sosiolinguistik yang mencakup variabel yang lebih besar, baik dalam jumlah populasi, wilayah penyebaran bahasa, maupun kontinuitas bahasa dari waktu ke waktu. Ada tiga utama yang patut diperhatikan dalam sosiolinguistik makro: (1) kontak bahasa; (2) konflik bahasa; (3) perubahan bahasa dan perubahan sosial. 
Dengan demikian, hubungan antara sosiolinguistik mikro dan sosiolinguistik makro dapat ditemukan dalam transmisi hubungan agennya, juga dalam proses klasifikasi dan pemetaannya. Ini bila mengikuti formulasi Bernstein. Sementara dalam formulasi Collin, hubungan di antara keduanya tidak diperlukan.
Hubungan di antara keduanya dapat disajikan dengan berpasangan seperti berikut: (1) guyub tutur berpasangan dengan repertoar individu; (2) bahasa sebagai komoditas sosial berpasangan dengan bahasa sebagai atribut individu; (3) bahasa sebagai dasar evaluasi kolektivitas sosial berpasangan dengan bahasa sebagai dasar kesempatan individu; (4) bahasa sebagai entitas yang menyebar, menyusut, dan berubah berpasangan dengan bahasa sebagai sebuah kemampuan yang dibutuhkan oleh individu dan pergeseran dalam perspektif apa pun; (5) bahasa sebagai sebuah budaya dan sistem tanda berpasangan dengan bahasa sebagai unsur hubungan individu antara pembaca dan pengarang. 
Pokok kajian sosiolinguistik dibagi menjadi dua, yaitu: mikrososiolinguistik dan makrososiolinguistik. Yang pertama mengacu ke kajian bahasa pada komunikasi antarpersonal (dari orang ke orang). Yang kedua itu merujuk ke kajian bahasa pada tingkat yang lebih tingi daripada komunikasi antarorang, yakni pada tingkat komunitas. Mikrososiolinguistik membahas tentang bentuk dan struktur bahasa di dalam kaitannya dengan komunikasi antarorang. Yang kedua membahas tentang kedwibahasaan (bilingualisme), komunitas diglostik, sikap bahasa, perencanaan bahasa, aksen, variasi bahasa, pemilihan bahasa, pemertahan dan pergeseran bahasa, bahasa dan pendidikan, dll.



SIKAP BAHASA
Sikap adalah perasaan seseorang tentang obyek, aktifitas, peristiwa dan orang lain. Perasaan ini menjadi konsep yang merepresentasikan suka atau tidak sukanya (positif, negatif, atau netral) seseorang pada sesuatu. Seseorang pun dapat menjadi ambivalen terhadap suatu target, yang berarti ia terus mengalami bias positif dan negatif terhadap sikap tertentu.
Sikap muncul dari berbagai bentuk penilaian. Sikap dikembangkan dalam tiga model, yaitu afeksi, kecenderungan perilaku, dan kognisi. Respon afektif adalah respon fisiologis yang mengekspresikan kesukaan individu pada sesuatu. Kecenderungan perilaku adalah indikasi verbal dari maksud seorang individu. Respon kognitif adalah pengevaluasian secara kognitif terhadap suatu objek sikap. Kebanyakan sikap individu adalah hasil belajar sosial dari lingkungannya.
Bisa terdapat kaitan antara sikap dan perilaku seseorang walaupun tergantung pada faktor lain, yang kadang bersifat irasional. Sebagai contoh, seseorang yang menganggap penting transfusi darah belum tentu mendonorkan darahnya. Hal ini masuk akal bila orang tersebut takut melihat darah, yang akan menjelaskan irasionalitas tadi.
Sikap dapat mengalami perubahan sebagai akibat dari pengalaman. Tesser (1993) berargumen bahwa faktor bawaan dapat mempengaruhi sikap tapi secara tidak langsung. Sebagai contoh, bila seseorang terlahir dengan kecenderungan menjadi ekstrovert, maka sikapnya terhadap suatu jenis musik akan terpengaruhi. Sikap seseorang juga dapat berubah akibat bujukan. Hal ini bisa terlihat saat iklan atau kampanye mempengaruhi seseorang.
            Salah seorang ahli yang membahas tentang sikap adalah Carl Jung. Ia mendefinisikan tentang sikap sebagai "kesiapan dari psike untuk bertindak atau bereaksi dengan cara tertentu". Sikap sering muncul dalam bentuk pasangan, satu disadari sedang yang lainnya tidak disadari. ("http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia_bahasa_Indonesia).

Sikap juga dapat memudahkan seseorang mempelajari bahasa kedua. Hasil penelitian Lambert at all (1968, dalam Fasold 1984:148) menunjukkan bahwa  sikap dapat mempengaruhi pemelajaran bahasa kedua. Sikap yang positif terhadap bahasa kedua memungkinkan seseorang untuk lebih cepat memahami bahasa kedua tersebut. Sebaliknya, sikap negatif terhadap bahasa kedua akan  menghalangi pemahaman bahasa kedua tersebut.
Ada dua pandangan utama mengenai sikap yaitu pandangan mentalist dan behaviorist. Menurut pandangan mentalistik, sikap adalah keadaan internal yang dibangkitkan oleh suatu stimulasi yang dapat menjadi perantara respon selanjutnya (Williams, 1974: 21). Sedangkan menurut pandangan behaviorist, sikap adalah respon yang dibuat oleh orang terhadap berbagai situasi social (Fasold, 1984: 147).
Perbedaan lain antara kedua pandangan ini adalah mengenai komponen dari sikap. Menurut Agheyisi dan Fishman (1970: 139) mentalist menganggap sikap terbagi atas tiga komponen, yaitu: kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan) dan konatif (tindakan), sedangkan behaviorist memandang sikap sebagai unit tunggal.
Penelitian ini mengacu pada sikap terhadap aksen, bukan mengenai sikap secara umum. Beberapa studi mengenai sikap dibatasi pada sikap terhadap bahasa itu sendiri. Akan tetapi, ada juga cukup banyak studi yang memperluas definisi sikap sehingga mencakup sikap terhadap penutur suatu bahasa atau dialek tertentu (Fasold, 1984: 148).
Dialek mencakup cara pengucapan, kosakata dan struktur kalimat (Montgomery, 1995: 69). Dalam penelitian ini, peneliti akan memfokuskan kajian pada sikap terhadap aksen yang berbeda. Aksen mencakup seluruh pola pengucapan khusus dari suatu daerah atau kelompok sosial (69). Perbedaan pengucapan dapat menjadi indikator yang kuat dari identitas regional (64). Dengan demikian, perbedaan aksen dapat digunakan untuk menunjukkan ciri-ciri bahasa Inggris Amerika dan Britania.
Sikap bahasa ditandai oleh ciri yang meliputi pemilihan bahasa dalam masyarakat multilingual. Dalam masyarakat multilingual, sikap bahasa seseorang ditentukan oleh beberapa faktor. Di antaranya ada yang berkaitan dengan topic pembicaraan, kelas sosial masyarakat pemakai, kelompok umur, jenis kelamin, dan situasi pemakaian.


PENELITIAN-PENELITIAN MENGENAI SIKAP BAHASA
1. Sikap Mahasiswa Program S1 Sastra Inggris,  Fakultas Sastra, Universitas Airlangga Terhadap  Aksen Bahasa Inggris Amerika Dan Britania  Suatu Kajian Sosiolinguistik
Oleh   
deny arnos kwary, s.s. dan dra. ida nurul chasanah, s.s.,m.hum.
 lembaga penelitian universitas airlangga (2005)
Di Indonesia setidaknya ada tiga peneliti yang pernah membahas mengenai sikap bahasa, yaitu: Asim Gunarwan (1983), Anton M Moeliono (1988) dan Basuki Suhardi (1991). Ketiga peneliti tersebut lebih memfokuskan pada sikap terhadap bahasa Indonesia. Gunarwan (1983) meneliti sikap bahasa mahasiswa Indonesia terhadap bahasa Indonesia baku dan non baku. Moeliono (1988) menemukan enam sikap negatif yang kurang menguntungkan dalam pembakuan bahasa Indonesia. Suhardi (1991) meneliti sikap mahasiswa dan sarjana terhadap bahasa Indonesia, bahasa ibu dan bahasa Asing. Penelitian Suhardi (1991) mengenai sikap terhadap bahasa asing, hanya memfokuskan pada sikap terhadap bahasa Inggris secara umum. Penelitian tersebut tidak membahas mengenai sikap terhadap dua ragam bahasa Inggris yang berbeda dan tidak melihat pada berbagai dimensi psikologi sosial, misalnya status, kekuasaan, solidaritas, dan kompetensi.
Penelitian ini difokuskan pada sikap terhadap aksen bahasa Inggris Amerika dan Britania. Menurut Montgomery (1995:69) aksen mengacu pada seluruh pola pengucapan khusus oleh orang-orang dari daerah tertentu atau kelompok sosial tertentu. Posisi bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional, dengan jumlah penutur sekitar 1,5 miliar (Crystal, 1997), menyebabkan adanya berbagai variasi aksen bahasa Inggris menurut negara penuturnya. Variasi bahasa Inggris yang paling dominan adalah variasi bahasa Inggris Amerika (American English), yang disebut juga General American, dan bahasa Inggris Britania (British English), yang disebut juga Received Pronunciation. Fromkin dan Rodman (1998: 430) menemukan bahwa aksen bahasa Inggris Britania berbeda secara sistematis dari yang diucapkan dalam bahasa Inggris Amerika. Contohnya: 48% orang Amerika mengucapkan konsonan tengah dalam kata luxury dengan bunyi tidak bersuara, sementara 96% orang Inggris mengucapkannya dengan bunyi bersuara .
Penelitian ini memfokuskan pada sikap mahasiswa program studi Sastra Inggris di Universitas Airlangga terhadap aksen bahasa Inggris Amerika dan Britania. Sikap bahasa mereka akan dinilai berdasarkan empat dimensi dasar yang dapat dibagi dalam 22 personality traits ‘ciri kepribadian’. Keempat dimensi dasar tersebut adalah status, power ‘kekuasaan’, solidarity ‘solidaritas’, dan competence ‘kompetensi’. Penjelasan lebih lanjut mengenai 22 personality traits yang mengisi keempat dimensi ini dapat dilihat pada bagian Landasan Teori.
Peneliti memilih mahasiswa program studi Sastra Inggris sebagai populsi penelitian ini dengan asumsi dasar bahwa bahwa para mahasiswa tersebut berhubungan erat dengan pemelajaran bahasa Inggris dan cukup dapat membedakan aksen bahasa Inggris Amerika dan Britania. Menurut aspek biologis, pendidikan untuk mahasiswa dapat dikategorikan dalam pendidikan orang dewasa (Brookfield, 1984). Peran mahasiswa dalam pembangunan Indonesia sangat penting. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi secara tegas dinyatakan bahwa pendidikan tinggi bertugas menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional, yang dapat menerapkan serta mengembangkan dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian.
Khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian dapat diperkaya dengan pemahaman bahasa Inggris yang merupakan bahasa Internasional. Proses pemahaman bahasa Inggris dapat diakselerasikan jika kita mengetahui variasi bahasa Inggris yang lebih disukai oleh para pelajar pada umumnya, dan mahasiswa program studi S1 Sastra Inggris pada khususnya, karena sikap terhadap suatu bahasa dapat mempengaruhi tingkat keberhasilan pembelajaran bahasa.


2.. Sikap Bahasa Guru Sekolah Dasar Di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri Terhadap Bahasa Indonesia
Oleh :
Meirwandina Putra
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah sikap bahasa guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran terhadap bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas? (2) Adakah perbedaan sikap bahasa guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran terhadap bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas berdasarkan jenis kelamin dan tingkat pendidikannya? Tujuan penelitian ini ialah memperoleh gambaran tentang bagaimana sesungguhnya sikap bahasa dari masyarakat tutur kita sekarang ini terhadap bahasa Indonesia. Sesuai dengan subjek yang dikaji, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sikap bahasa dari masyarakat tutur guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Lebih khusus lagi, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa jauh sikap positif terhadap bahasa Indonesia, khususnya terhadap bahasa Indonesia ragam baku saat kegiatan belajar mengajar berdasarkan kelas yang diajarnya dan latar belakang pendidikan guru tersebut. Lebih jauh lagi, penelitian ini bertujuan memerikan pengaruh variabel jenis kelamin.usia, dan pendidikan terhadap sikap bahasa guru sekolah dasar tersebut. Data dalam penelitian ini berupa pernyataan sikap responden terhadap bahasa Indonesia. Data tersebut diperoleh dengan menerapkan dua teknik, yaitu: menyebar kuesioner kepada responden, sebagai data pokok dan wawancara, sebagai data penunjang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif sekaligus kualitatif. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal, yakni: (1) Guru sekolah dasar menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, khususnya bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, (2) Sikap bahasa guru sekolah dasar terhadap bahasa Indonesia, khususnya bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh variabel jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Terdapat perbedaan sikap bahasa guru sekolah dasar terhadap bahasa Indonesia berdasarkan variabel-variabel tersebut. Guru laki-laki menunjukkan sikap lebih positif daripada guru perempuan. Dipandang dari tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan mereka, semakin positif sikap bahasanya. Guru dengan tingkat pendidikan strata satu menunjukkan sikap lebih positif daripada guru dengan tingkat pendidikan diploma dua.



3. Sikap Bahasa Mahasiswa STBA Harapan Medan Terhadap Penutur Bahasa Indonesia Beraksen Jawa, Minang, Batak, Aceh, Dan Hokien
(Suatu Kajian Sosiolinguistik)
Paiman Yusdarsono
Program Pasca Sarjana, Program Studi Linguistik, Universitas Sumatera Utara
Tesis ini berjudul “Sikap Bahasa Mahasiswa STBA Harapan Medan Terhadap Penutur Bahasa Indonesia Beraksen Jawa, Minang, Batak, Aceh dan Hokien (Suatu Kajian Sosiolinguistik).
Penelitian ini adalah suatu kajian sikap bahasa yang bertujuan mengetahui, jawaban tentang sikap bahasa mahasiswa STBA Harapan Medan terhadap penutur bahasa Indonesia Beraksen Jawa, Minang, Batak, Aceh dan Hokien. Dan mengetahui sikap bahasa terhadap karakteristik penutur bahasa daerah tersebut.
Data dikumpulkan lewat angket yang disebarkan kepada 160 orang responden. Data dihitung berdasarkan skala 6 yaitu: (1) paling (positif) (2) lebih (positif) (3) positif (4) negatif (5) lebih (negatif), dalam bentuk penjumlahan (Xi), nilai rata-rata (mean), dan standar deviasi (SD).
Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa sikap bahasa responden (mahasiswa STBA Harapan Medan) terhadap penutur bahasa Indonesia beraksen jawa adalah negatif (3.06), beraksen Minang, adalah negatif (3.35), beraksen batak adalah positif (3.50), beraksen aceh adalah positif (3.51), beraksen Hokien adalah positif (3.67).

4. Sikap bahasa guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri terhadap Bahasa Indonesia
Oleh Meirwandina Putra
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, yaitu: (1) Bagaimanakah sikap bahasa guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran terhadap bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas? (2) Adakah perbedaan sikap bahasa guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran terhadap bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas berdasarkan jenis kelamin dan tingkat pendidikannya? Tujuan penelitian ini ialah memperoleh gambaran tentang bagaimana sesungguhnya sikap bahasa dari masyarakat tutur kita sekarang ini terhadap bahasa Indonesia. Sesuai dengan subjek yang dikaji, maka penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sikap bahasa dari masyarakat tutur guru sekolah dasar di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Lebih khusus lagi, yaitu untuk memperoleh gambaran mengenai seberapa jauh sikap positif terhadap bahasa Indonesia, khususnya terhadap bahasa Indonesia ragam baku saat kegiatan belajar mengajar berdasarkan kelas yang diajarnya dan latar belakang pendidikan guru tersebut. Lebih jauh lagi, penelitian ini bertujuan memerikan pengaruh variabel jenis kelamin.usia, dan pendidikan terhadap sikap bahasa guru sekolah dasar tersebut. Data dalam penelitian ini berupa pernyataan sikap responden terhadap bahasa Indonesia. Data tersebut diperoleh dengan menerapkan dua teknik, yaitu: menyebar kuesioner kepada responden, sebagai data pokok dan wawancara, sebagai data penunjang. Penelitian ini menggunakan teknik analisis kuantitatif sekaligus kualitatif. Berdasarkan hasil analisis dapat disimpulkan beberapa hal, yakni: (1) Guru sekolah dasar menunjukkan sikap positif terhadap bahasa Indonesia, khususnya bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas, (2) Sikap bahasa guru sekolah dasar terhadap bahasa Indonesia, khususnya bahasa Indonesia ragam baku dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dipengaruhi oleh variabel jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Terdapat perbedaan sikap bahasa guru sekolah dasar terhadap bahasa Indonesia berdasarkan variabel-variabel tersebut. Guru laki-laki menunjukkan sikap lebih positif daripada guru perempuan. Dipandang dari tingkat pendidikan, semakin tinggi pendidikan mereka, semakin positif sikap bahasanya. Guru dengan tingkat pendidikan strata satu menunjukkan sikap lebih positif daripada guru dengan tingkat pendidikan diploma dua.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators