Sabtu, 23 Maret 2013

PENGAJARAN BAHASA YANG KREATIF


Kunci sukses pengajaran bukan terletak pada kecanggihan kurikulum atau kelengkapan fasilitas sekolah, melainkan bagaimana kredibilitas seorang guru di dalam mengatur dan memanfaatkan mediator yang ada di dalam kelas.

Pendidikan memegang peranan yang amat penting untuk menjamin kelangsungan hidup negara dan bangsa. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas sumber daya manusia. Guna mewujudkan tujuan di atas diperlukan usaha yang keras dari masyarakat maupun pemerintah. Masyarakat Indonesia dengan laju pembangunannya masih menghadapi masalah berat, terutama berkaitan dengan kualitas, relevansi, dan efisiensi pendidikan.

Departemen Pendidikan Nasional sebagai lembaga yang bertanggung jawab dalam penyelenggaraan pendidikan dan telah melakukan pembaharuan sistem pendidikan. Usaha tersebut antara lain adalah penyempurnaan kurikulum, perbaikan sarana dan prasarana, serta peningkatan kualitas tenaga pengajar.

Dalam pengajaran atau proses belajar mengajar guru memegang peran sebagai sutradara sekaligus aktor. Artinya, pada gurulah tugas dan tanggung jawab merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Guru sebagai tenaga profesional harus memiliki sejumlah kemampuan mengaplikasikan berbagai teori belajar dalam bidang pengajaran, kemampuan memilih dan menerapkan metode pengajaran yang efektif dan efisien, kemampuan melibatkan siswa berpartisipasi aktif, dan kemampuan membuat suasana belajar yang menunjang tercapainya tujuan pendidikan.

Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran yang mempunyai peranan yang penting dalam dunia pendidikan. Secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: (1) Siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan (nasional) dan bahasa Negara, (2) Siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna, dan fungsi, serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan, (3) Siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan sosial. (4) Siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis), (5) Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, (6) Siswa menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia, pengajarannya dilakukan sejak dini, yakni mulai dari sekolah dasar yang nantinya digunakan sebagai landasan untuk jenjang yang lebih lanjut. Pembelajaran bahasa Indonesia ini diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Penguasaan bahasa Indonesia yang baik dapat diketahui dari standar kompetensi yang meliputi, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan (menyimak).




KURIKULUM didesain sebagai pedoman atau garis besar bagi guru untuk membelajarkan siswa. Kurikulum seyogianya peka terhadap tantangan zaman agar siswa mampu menari mengikuti irama musik zaman. Sebagai perbandingan, peluncuran Sputnik oleh Uni Soviet pada tahun 1957 dianggap sebuah ancaman bagi AS. Maka kurikulum di review untuk mengimbangi kemajuan teknologi Uni Soviet. Sekolah-sekolah menekankan matematika, sains, bahasa asing, dan mata-mata pelajaran yang terkait dengan pertahanan.

Sesuai dengan filsafat yang dianut Dewey (1859-1952), sekolah mesti mencetak siswa sebagai warga negara yang demokratik, berpikir bebas dan cerdas. Progresivisme sebagaimana dikembangkan oleh Dewey menghormati perorangan, sains, dan menerima perubahan sesuai dengan perkembangan. Aliran ini mendorong sekolah untuk mengembangkaan kurikulum sehingga lebih relevan dengan kebutuhan dan minat siswa.

Bagi Dewey, ilmu pengetahuan itu dapat diperoleh dan dikembangkan dengan mengaplikasikan pengalaman, lalu dipakai untuk menyelesaikan persoalan baru. Pendidikan dengan demikian adalah rekonstruksi pengalaman. Untuk memecahkan problem, ia mengajarkan metode ilmiah dengan langkah-langkah sebagai berikut: (1) Sadari problem yang ada; (2) Definisikan peroblem itu; (3) Ajukan sejumlah hipotesis untuk memecahkannya; (4) Uji telik konsekuensi setiap hipotesis dengan melihat pengalaman silam; (5) Alami; dan (6) Uji coba solusi yang paling memungkinkan.

Para pendidik pengikut aliran Dewey sangat menentang praktik sekolah tradisional, khususnya dalam lima hal: (1) guru yang otoriter, (2) metode yang terlampau mengandalkan buku teks, (3) pembelajaran pasif dengan mengingat fakta, (4) filsafat empat tembok, yakni terisolasinya pendidikan dari kehidupan nyata, dan (5) hukuman badan sebagai alat untuk menanamkan disiplin pada siswa.

Bila pada era tahun 1960-an AS mendapat ancaman dari Uni Soviet, adakah ancaman yang kurang lebih sama bagi Indonesia sekarang ini? Mestinya ada, namun mungkin mayoritas bangsa Indonesia tidak menyadari esensi-dan sesungguhnya ancaman--yang dikatakan Huntington lewat bukunya The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1997) bahwa kultur Eropa akan menjadi kultur universal di muka bumi.

Dengan melihat tantangan global, khususnya imperialisme kultural sebagaimana dibentangkan oleh Huntington, kurikulum bahasa Indonesia, khususnya, mesti didesain untuk menjawab tantangan imperialisme kultural tersebut. Guru bahasa seyogianya tampil di lini terdepan sebagai pendekar kebudayaan. Mereka ditantang untuk memiliki kompetensi profesional.

Peran guru bahasa dalam pendidikan sangat mendasar dengan melihat tiga prinsip yaitu: (1) bahasa adalah media pembelajaran segala mata pelajaran di sekolah, (2) bahasa adalah alat berpikir, dan (3) bahasa adalah alat komunikasi. Bukankah pendidikan diniati untuk meningkatkan kualitas berpikir, dan untuk menyiapkan siswa agar mampu bersosialisasi dan berkomunikasi secara fungsional dalam lingkungannya? Penguasaan bahasa, dengan demikian, merupakan dasar bagi pendidikan sebagai proses maupun pendidikan sebagai hasil.

Sekadar perbandingan, mereka yang memilih profesi guru bahasa (Inggris) di AS adalah mereka yang gila baca dan gila tulis. Lewat pendidikan guru, mereka dibekali pemahaman bagaimana berbagai kelompok siswa belajar baca-tulis dan metodologi pengajarannya. Dengan kata lain, guru bahasa seyogianya memiliki kompetensi profesional di atas rata-rata. Mereka harus mampu menulis.

Mengapa sastra?

Ada sejumlah alasan di balik pengajaran bahasa berbasis sastra sebagai berikut. Pertama, secara psikologis manusia memiliki kecenderungan (hanifa) untuk menyukai realita dan fiksi. Kita hidup dalam keduanya. Sastra memberikan kesempatan yang tak terbatas untuk menghubungkan bahasa dan pengalaman siswa.

Kedua, karya sastra memperkaya kehidupan pembacanya melalui pencerahan pengalaman dan masalah pribadi dan lewat sastra pembaca belajar bagaimana orang lain menyikapi semua itu. Ketiga, karya sastra adalah harta karun berbagai kearifan lokal yang seyogianya diwariskan secara turun-temurun lewat pendidikan.

Keempat, berbeda dengan keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, menulis), sastra dalam dirinya ada isi, yakni nilai-nilai dan interpretasi kehidupan. Sastra jauh lebih mantap daripada buku teks untuk mengembangkan keterampilan berbahasa karena, antara lain, dalam sastra fokus utama pada makna bukan pada keterampilan berbahasa atau kosakata yang cenderung terisolasi dan tidak konstekstual.

Kelima, melalui sastra siswa ditempatkan sebagai pusat dalam latar pendidikan bahasa yang mengkoordinasikan komunikasi lisan, eksplorasi sastra, dan perkembangan pengalaman personal dan kolektif. Dengan kata lain, siswa diterjunkan langsung ke dalam dunia nyata lewat rekayasa imajiner.

Keenam, pembiasaan terhadap karya sastra meningkatkan kecerdasan naratif atau narrative intelligence, yaitu kemampuan memaknai secara kritis dan kemampuan memproduksi narasi. Sastra menawarkan ragam struktur cerita, tema, dan gaya penulisan dari para penulis. Dengan narasi dimaksudkan sejumlah teks seperti fiksi, biografi, autobiografi, memoar, dan esai historis atau materi faktual lainnya.

Ketujuh, beberapa penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan pengajaran tata bahasa, pengajaran sastra lebih berkontribusi terhadap kemampuan menulis. Dengan membaca sastra, siswa dengan sendirinya-tanpa disadari--akan mengenal tata bahasa. Selain itu, apresiasi terhadap berbagai karya sastra meninggalkan pada benak siswa model-model karya sastra yang dapat dijadikan contoh dalam mengarang. Siswa belajar mengarang lewat praktik mengarang. Kegiatan saling baca (peer editing) dan menulis sejumlah draf karangan (multiple drafting) sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas karangan dan untuk membangun paguyuban pembaca-penulis.

Dengan alasan-alasan di atas, guru sesungguhnya dapat menggunakan karya sastra sebagai basis bagi pengajaran bahasa. Berikut ini dijelaskan sejumlah konsep, teknik, dan kegiatan belajar-mengajar yang dapat diintegrasikan ke dalam kurikulum Bahasa Indonesia dari SD sampai SMA.

Pertama, tema atau topik dipilih oleh guru dan siswa. Sebuah tema sastra akan bermakna manakala tema itu dipilih bersama-sama. Setelah beberapa tema diselesaikan, akan diketahui adanya minat khusus siswa yang bisa dijadikan tema studi mandiri (independent reading) atas bimbingan guru. Pembelajaran literasi seyogianya menjunjung kepemilikan (ownership) pada pihak siswa atas seleksi dan panduan guru.

Kedua, diskusi berbasis topik. Diskusi sastra dimaksudkan untuk membiasakan siswa melakukan sintesis ihwal materi sastra dan membuka wawasan untuk bacaan selanjutnya, mungkin dengan melakukan penelitian di perpustakaan. Setelah beberapa diskusi kecil, siswa dibiasakan melakukan diskusi besar (diskusi kelas).

Ketiga, pengalaman sastra. Ini merupakan inti dari pendekatan sastra. Guru membaca beberapa pilihan karya sastra dan menghubungkannya dengan bacaan-bacaan lainnya-misalnya pelajaran IPA atau agama--yang terkait dengan tema tertentu. Respons siswa terhadap sastra dapat berupa respons kognitif atau afektif. Membaca nyaring karya sastra, khususnya pada kelas-kelas rendah, dapat dilakukan untuk berbagi pengalaman sastra ini.

Keempat, eksplorasi individual terhadap sastra. Siswa dibiasakan melakukan eksplorasi sastra secara mandiri, misalnya dengan berkunjung ke perpustakaan. Setiap siswa memiliki koleksi pilihannya untuk dipajangkan di kelas. Siswa disarankan untuk saling berbagi informasi ihwal koleksi ini. Koleksi ini membentuk portofolio kelas.

Kelima, memahami perbedaan sudut pandang. Sebagai gambaran kehidupan masyarakat, karya sastra sering kali menggambarkan sudut pandang, nilai-nilai sosial yang berbeda, bahkan bertentantangan satu sama lain. Hal demikian itu seyogianya diakomodasi dalam pengajaran sastra, sehingga siswa sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat.

Keenam, memahami konvensi penulisan. Lewat karya sastra siswa mesti dilatih terbiasa dengan konvensi penulisan untuk memahami pesan bahasa tulis. Hal-hal seperti penulisan cetak miring, cetak tebal, garis bawah, garis miring, penggunaan tanda baca dan huruf besar seyogianya diajarkan sejak SD.

Ketujuh, penggunaan seni kreatif dan ekspresif. Sastra membangkitkan imajinasi yang dapat disalurkan lewat seni. Siswa dilatih terbiasa mendengar dan memproduksi bahasa kreatif dan ekspresif. Siswa yang mendapat kesulitan berekspresi kreatif lewat tulisan mungkin dapat melakukannya lewat media lain seperti seni rupa, seni pertunjukan, tarian, dan lain sebagainya.

Kedelapan, penggunaan media. Penggunaan media seperti film, gambar, slide, dan sebagainya dapat mengembangkan topik bahasan. Siswa seyogianya didorong untuk mengeksplorasi berbagai media untuk mengapresiasi dan berekspresi diri secara perorangan atau kolektif.

Kesembilan, berkisah (story telling). Keterampilan berkisah, khususnya buat anak, sangat diperlukan untuk menumbuhkan imajinasi siswa. Ini bukanlah sesuatu yang mewah, tetapi sering kali diabaikan padahal penting dilakukan. Dalam program pengajaran sastra, guru bisa saja melatih siswa berkisah ihwal fiksi yang sudah dibaca di kelas atau bahkan melombakannya pada tingkat kelas atau bahkan sekolah.

Pengajaran bahasa Indonesia berbasis sastra bukan tanpa tantangan. Dalam kurikulum sekolah selama ini, sastra sering terpinggirkan oleh linguistik, karena dalam pengamatan saya kini lebih banyak guru yang menguasai linguistik daripada guru yang menguasai sastra.

Realisasi pendekatan ini mesti berpedoman pada empat hal, sebagai berikut. Pertama, ada keseimbangan dalam kategori materi sastra, sehingga hampir semua genre sastra terwakili, misalnya komedi, epik, lirik, legenda, dan fabel, dan sebagainya. Kedua, kurikulum sastra tidak boleh dibatasi pada tradisi etnis atau aliran tertentu saja. Karya sastra daerah, nasional, bahkan asing seyogianya terwakili asalkan karya-karya itu cocok untuk usia siswa.

Ketiga, keseimbangan untuk memenuhi kebutuhan dan minat kelompok di satu pihak dan individu siswa pada piak lain. Guru harus peka terhadap berbagai faktor seperti usia, pengalaman, perkembangan akademik, cara belajar, dan lingkungan sosial siswa. Keempat, keseimbangan dalam hal kualitas karya sastra. Pada tahap awal bisa jadi siswa dibiarkan membaca apa saja yang disukainya, tetapi lambat laun mereka mesti diperkenalkan kepada karya sastra yang berkualitas, yakni yang memenuhi empat kriteria yang relatif universal, yaitu adanya (1) kebenaran, (2) kejujuran, (3) keindahan, dan (4) keabadian




Persoalan utama yang hingga kini masih menghambat pengembangan pengajaran sastra di sekolah menengah umum (SMU) adalah masih melekatnya pengajaran sastra pada mata pelajarah bahasa (Indonesia). Persoalan utama ini sudah sering digugat oleh para akademisi sastra dan sastrawan, misalnya Suminto A Sayuti dan Taufiq Ismail, tapi masih saja berlangsung seperti itu.

Posisi pengajaran sastra yang melekat pada pelajaran bahasa Indonesia itu mengisyaratkan, bahwa pengajaran sastra hanya ditempatkan sebagai salah satu aspek pengajaran bahasa -- aspek-aspek lainnya adalah keterampilan membaca, menulis, mendengarkan, berbicara, dan tata bahasa. Posisi melekat itu juga masih bertahan pada era Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang berlaku sekarang ini.

Dengan posisi melekat pada pelajaran bahasa, pelaksanaan pengajaran sastra akhirnya akan sangat tergantung pada guru-guru bahasa. Jika sang guru bahasa memiliki apresiasi sastra yang tinggi, maka pengajaran sastra juga akan mendapatkan perhatian yang lebih. Karena memang berminat, sang guru akan terdorong untuk mengajarkan apresiasi sastra secara sungguh-sungguh dan kreatif mencari solusi atas sempitnya waktu yang tersedia.

Tetapi, jika sang guru bahasa Indonesia tidak memiliki minat terhadap sastra, atau memiliki apresiasi sastra yang rendah, maka pengajaran sastra cenderung akan dilaksanakan apa adanya sesuai materi yang ada di buku pegangan. Guru tidak akan tertarik untuk bersungguh-sungguh meningkatkan apresiasi, wawasan dan minat baca siswa terhadap karya sastra. Apalagi, memperkaya materi pelajaran yang ada.

Dengan hanya menjadi bagian dari pelajaran bahasa Indonesia, maka prestasi siswa dalam pengajaran sastra tidak muncul sebagai nilai (rapor) tersendiri, tapi hanya menyumbang sedikit (kurang dari 20 persen) pada nilai bahasa Indonesia. Akibatnya, para siswa tidak terdorong untuk bersungguh-sungguh dalam mengikuti dan menguasai pelajaran sastra.

Cukup logis, jika para siswa merasa tidak perlu bersungguh-sungguh dalam menguasai pelajaran apresiasi sastra, karena prestasi mereka dalam pelajaran ini hanya akan menyumbang tidak lebih dari 20 persen nilai bahasa Indonesia pada rapornya -- persentase nilai lainnya disumbang oleh aspek mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan kebahasaan. Apalagi, jika minat mereka pada bidang sastra memang rendah.

Selain itu, pelajaran bahasa Indonesia juga banyak dibebani semacam 'titipan' pengetahuan bidang lain, seperti kesehatan, lingkungan, politik, dan budaya, bahkan transmigrasi, teknologi dan olahraga. Sehingga, yang muncul pada sub-sub judul buku pelajaran bahasa dan sastra bukan aspek-aspek bahasa dan sastra itu sendiri, tapi bidang-bidang pengetahuan yang lain.

Lihat saja, misalnya, buku Bahasa dan Sastra Indonesia susunan Dra N Sukartinah dkk (CV Thursina, Bandung, 2003). Sub-sub judul yang dimunculkan pada buku ini 90 persen justru non-sastra dan non-bahasa, yakni Keselamatan dan Kesehatan Tenaga Terja, Teknologi, Pendidikan, Pertanian, Transmigrasi, Lingkungan, Peristiwa, serta Olahraga. Sehingga, sepintas, kita malah bingung, itu buku pelajaran bahasa atau pengetahuan umum.

Keanehan itu, selain membuat siswa tidak terkonsentrasi pada masalah bahasa dan sastra, juga menutup peluang untuk meningkatkan sentuhan materi sastra dalam pengajaran bahasa. Untuk aspek membaca, mendengarkan dan berbicara, misalnya, bukan membaca, mendengarkan, dan berbicara dengan materi karya sastra, baik esei, cerpen, maupun puisi; tetapi dengan materi tentang kesehatan, lingkungan, teknologi, dan bidang-bidang lain yang tidak ada kaitannya dengan sastra.

Mungkin, hal itu dilakukan agar pengajaran bahasa dapat diberikan secara menarik dan variatif topiknya, tapi bisa saja siswa malah bingung, itu pelajaran bahasa atau bukan. Akibatnya, fokus atau konsentrasi siswa pada pelajaran bahasa dan sastra juga malah terpecah ke bidang lain, sehingga malah mendangkalkan pelajaran bahasa dan sastra Indonesia itu sendiri.

Karena itu, seperti berkali-kali dikemukakan oleh Taufiq Ismail, sangat penting untuk mendesakkan kembali agar pelajaran sastra dipisahkan saja dari pelajaran bahasa Indonesia, terutama sejak pendidikan tingkat SMU. Rasanya, inilah cara yang paling tepat agar pengajaran sastra di SMU dapat berlangsung secara efektif dan maksimal.

Dengan pemisahan seperti itu, maka mata pelajaran sastra akan berdiri otonom dan akan menyumbangkan nilai 100 persen pada rapor atau nilai kelulusan siswa. Pemisahan itu cukup dimulai sejak SMU, karena pada jenjang itulah penguasaan bahasa siswa rata-rata sudah cukup memadai, dengan daya penalaran yang cukup matang dan pada usia itulah minat dan bakat khusus siswa perlu diberi peluang untuk tumbuh lebih menonjol, termasuk bakat di bidang sastra.

Namun, menunggu pemisahan pengajaran sastra dari pengajaran bahasa, barangkali seperti menunggu Godot. Kita tidak tahu kapan kebijakan itu akan diputuskan oleh pemerintah (Depdiknas), dirumuskan oleh penyusun kurikulum, dan dilaksanakan di sekolah. Wacana pemisahan itu sudah sering muncul sejak tahun 1980-an, tapi timbul tenggelam seperti suara siaran radio yang diterbangkan angin, atau seperti teriakan di tengah padang pasir. Barangkali diperlukan unjuk rasa besar-besaran oleh para guru sastra dan sastrawan untuk meloloskan ide pemisahan tersebut menjadi kebijakan pemerintah.

Dalam posisi yang masih menyatu dengan pelajaran bahasa, pada akhirnya, sekali lagi, efektif tidaknya pengajaran sastra untuk meningkatkan apresiasi dan minat baca siswa terhadap karya sastra, tergantung pada guru bahasa Indonesia. Jika sang guru bahasa tidak memiliki minat terhadap sastra, serta apresiasi dan pengetahuan sastranya rendah, maka sulit diharap akan melaksanakan pengajaran sastra secara maksimal, kreatif dan efektif.

Jika kebanyakan guru bahasa Indonesia berkarakter seperti itu, maka pengajaran sastra akan tetap menuai kegagalan demi kegagalan seperti selama ini. Maka, sekali lagi, tidak ada jalan lain untuk meningkatkan pengajaran apresiasi sastra di SMU dalam rangka ikut meningkatkan apresiasi sastra masyarakat kecuali memisahkan pelajaran sastra dari pelajaran bahasa



KEBERHASILAN seorang guru dalam mengajar ditentukan oleh beberapa faktor, baik faktor internal maupun eksternal. Faktor internal terdiri atas motivasi, kepercayaan diri, dan kreativitas guru itu sendiri. Sedangkan faktor eksternal lebih ditekankan kepada sarana serta iklim sekolah yang bersangkutan.

Dalam tulisan ini, penulis akan mencoba membahas tentang kreativitas seorang guru dalam mengajar, sebagai asumsi yang dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.

Kreativitas pada dasarnya merupakan anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap orang, yakni berupa kemampuan untuk mencipta (daya cipta) dan berkreasi. Implementasi dari kreativitas seseorang pun tidaklah sama, bergantung kepada sejauh mana orang tersebut mau dan mampu mewujudkan daya ciptanya menjadi sebuah kreasi ataupun karya.

Dalam hal ini pula, seorang guru misalnya harus mampu mengoptimalkan kreativitasnya, khususnya yang tertuang dalam sebuah bentuk pembelajaran yang inovatif. Artinya, selain menjadi seorang pendidik, seorang guru pun harus bisa menjadi seorang kreator.

Sebagai contoh, kreativitas yang bisa diterapkan oleh seorang guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, adalah dengan menciptakan sebuah model pembelajaran yang dekat dengan keseharian siswa secara nyata. Artinya, seorang guru harus mampu menyinergikan pelajaran, dengan kenyataan yang biasa ditemukan dalam kesehariannya.

Misalnya, dalam pembelajaran apresiasi puisi (mengingat kapasitas penulis adalah sebagai guru bahasa dan sastra Indonesia). Minat siswa terhadap puisi misalnya, diakui atau tidak responsnya pasti akan berbeda. Artinya, ada siswa yang suka dan ada pula yang tidak.

Tetapi pada sisi lain, hampir keseluruhan siswa menyukai musik maupun lagu. Kedua hal tersebut apabila dikonvergenkan atau digabungkan, maka akan menjadi sebuah solusi yang cukup menarik.

Menyiasati

Karena itu, seorang guru sebagai seorang kreator harus mampu menyiasati kedua hal tersebut. Misalnya, dengan cara mengubah pola pikir di kalangan siswa tentang mengapresiasikan puisi. Bahwa puisi tidak hanya bisa dinikmati melalui deklamasi maupun pembacaan, tetapi sebuah puisi bisa juga dihadirkan dan diapresiasikan. Misalnya dengan cara mengubahnya menjadi sebuah lantunan lagu. Atau juga apa yang lebih dikenal dengan musikalisasi puisi.

Dengan cara memusikalisasikan sebuah puisi misalnya, maka motivasi para siswa dalam belajar mengapresiasi sebuah puisi menjadi lebih baik. Hal ini terbukti dari respons dan antusiasme siswa dalam mengapresiasi puisi-puisi lain, yang telah digubah menjadi sebuah musikalisasi puisi.

Respons mereka pun bermacam-macam, ada yang mengatakan bahwa dengan dimusikalisasikan mengapresiasi (menemukan tema, irama, dan amanat) puisi menjadi lebih mudah. Namun ada pula yang mengatakan, dengan dimusikalisasikan perasaannya menjadi lebih peka dan hanyut dalam lantunan lagu, dan masih banyak lagi respons yang lainnya.

Hal tersebut mengindikasikan, bahwa pembelajaran yang kreatif dan inovatif, cukup ampuh untuk memotivasi siswa dalam berkarya, baik dalam hal menulis maupun menggubah puisi menjadi sebuah lagu. Yang paling menarik, adalah ketika siswa mendapatkan sesuatu yang baru dan mereka menyukainya, maka besar kemungkinan motivasi mereka dalam mempelajari hal yang lainnya akan terus meningkat.

Karena itu, apa pun bidang studi yang digelutinya dan bagaimanapun pelajaran tersebut disampaikan, maka kreativitas serta aktivitas kita sebagai seorang guru, harus mampu menjadi inspirasi bagi para siwanya. Sehingga siswa akan lebih terpacu motivasinya untuk belajar, berkarya, dan berkreasi. Karena pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang terealisasi dalam keseharian siswa itu sendiri dengan baik.***






0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators