Sabtu, 21 Mei 2011

ANALISIS ROMAN ATHEIS

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

“Sastra”, istilah yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sesuatu yang dahulu kita anggap sebagai sesuatu yang hanya berhubungan dengan puisi dan prosa ternyata tidak sesederhana itu. Kita harus banyak menggali dan mempelajarai lebih banyak lagi segala sesuatu yang berhubungan dengan sastra tersebut. Sastra tersebut dapat diibratkan dengan samudra yang sangat luas, yang memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapt mengukur kedalamannya dan memanfaatkan kekayaannya.

Membaca sebuah karya sastra, dalam hal ini cerita fiksi, pada hakikatnya merupakan kegiatan apresiansi sastra secara langsung. Maksudnya adalah : kegiatan memahami karya sastra dengan sungguh-sungguh sehingga tumbuh pengertian, penghargaan, kepekaan kritis yang baik terhadap karya sastra tersebut ( Aminudin, 19953 : 35 ). Sastra, atau kesusastraan, menurut Swingewood (dalam Faruk, 1994:39), merupakan suatu rekonstruksi dunia dilihat dari sudut pandang tertentu yang kemudian dimunculkan dalam produksi fiksional. Sastra merupakan ekspresi pengarang yang bersifat estetis, imajinatif, dan integratif dengan menggunakan medium bahasa untuk menyampaikan amanat tertentu. Al-nasr atau prosa adalah karya sastra yang menggambarkan pikiran dan perasaan namun tidak terikat pada aturan bait dan rima (Syayib, 1964:328).

Roman sebagai salah satu hasil dari karya sastra memang sangat menarik untuk diteliti dan diketahui lebih dalam lagi mengenai karya tersebut. Roman berasal dari kata “roman” yang artinya adalah cerita dalam bahasa Romawi. Roman dalam kaitannya dengan sastra berarti cerita yang ditulis dalam bentuk prosa, menceritakan tentang kehidupan manusia secara lahir maupun bathin. Roman memiliki keunikan tersendiri dengan karya sastra yang lain. Namun, dewasa ini roman dan novel sering tidak dihiraukan perbedaanya. Bahkan pembaca sering tidak menghiraukan perbedaan yang ada antara roman dan novel yang ada. Mereka lebih tertarik terhadap isi dari buku yang dibacanya. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya kemajuan dan kreatifitas sastrawan dalam menghasilkan karya-karyanya.

Selain itu, sebagai salah satu karya sastra Roman sudah semestinya memiliki unsur-unsur yang membangun karya tersebut.unsur tersebut meliputi unsure ekstrinsik dan intrinsic. Baik unsure intrinsic maupun ekstrinsik sama-sama berperan dalam membangun sebuah karya sastra. Untuk dapat menentukan dan menelaah sebuah Roman, kita harus menyelami dan masuk kedalam cerita tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mampu menjiwai dari karya tersebut. Dengan mampu menelaah sebuah karya sastra khususnya roman, akan mempermudah kita dalam menentukan dan memilih mana roman yang baik dan yang kurang baik. Untuk itulah penting dilakukannya sebuah telaah yang nantinya akan membantu mempermudah kita menentukan roman yang baik dan yang kurang baik.

ATHEIS sebagai salah satu bentuk roman Indonesia memang perlu untuk dipelajari. Roman tersebut memiliki cerita yang cukup menarik dan pantas dijadikan sebagai bahan pelajaran. Namun, untuk dapat memahami dan mengerti secara utuh dari roman tersebut kita harus mampu membedah unsur-unsur yang membentuknya. Tanpa dilakukan pembedahan kita tidak kan pernah tahu unsur ekstrinsik dan intrinsik yang membangunnya. Salah satunya yang cukup penting adalah masalah dan tema. Untuk mampu membedah roman ATHEIS, kita memerlukan sebuah teori yang mampu mendukung proses penelaahan tersebut. Salah satu teori yang bisa digunakan adalah Teori Robert Stanton.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat digambarkan beberapa rumusan masalah

1. Bagaiman prinsip dari teori Robert Stanton dalam menganalisis sebuah Roman ?

2. Apa yang menjadi Masalah dan Tema dalam Roman ATHEIS ?

3. Apa saja yang menjadi fakta cerita dalam roman tersebut ?

4. Apa saja yang menjadi sarana sastra dalam roman ATHEIS ?

1.3 TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disampaikan, maka terdapat beberapa tujuan :

  1. Mengetahui prinsip teori Robert Stanton dalam menganalisis roman.
  2. Mengetahui Masalah dan Tema yang diangkat dalam Roman ATHEIS.
  3. Mengetahui Fakta cerita dalam roman ATHEIS.
  4. Mengetahui sarana sastra yang mendukung roman ATHEIS.

1.4 MANFAAT PENULISAN

Dalam menganalisis sebuah karya sastra khususnya roman secara tidak langsung, kita dapat memahami unsur-unsur yang mendukung sebuah karya sastra tersebut. Misalnya unsur ekstrinsik dan unsur intrinsik. Selain itu, dengan menerapkan teori Robert Stanton kita mampu menelaah sebuah karya sasyra khususnya roman. Dengan mampu menelaah roman, kita akan mampu dengan mudah memahami sebuah karya sastra. Kita tidak hanya mengetahui jalan ceritanya saja, tetapi juga unsure-unsur yang mendukungnya.

Selain itu, kita sebagai calon pendidik akan mampu mengimplementasikan hasil dari telaah terhadap Roman ATHEIS sebagai bahan pembelajaran. Kita tidak hanya mampu memberikan teori tetap[I penerapan langsung terhadap anak didik. Tidak hanya itu, hasil dari analisi ini juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan untuk tugas penelitian.

1.5 METODE PENULISAN

Dalm penulisan makalah ini digunakan metode kajian pustaka. Kajian pustaka adalah metode yang digunakan dengan cara mengumpulkan bahan-bahan yang diperlukan dalam penulisan makalah ini. Bahan terseebut berupa buku-buku yang dijadikan sebagai referensi dalam penulisa. Dengan buku-buku tersebut kita kemudian melakukan pembahasan.

1.6 LANDASAN TEORI

Roman sebagai salah satu hasil karya sastra sangat menarik untuk kita ketahui dan pelajari. Di dalam roman kita akan menemukan beberapa unsur yang membentuknya. Kita mengetahui bersama bahwa setiap karya sastra selalu ada unsure yang membangunnya. Unsure-unsur tersebut bersatu padu sehingga menghasilkan gabungan yang membentuk karya sastra. Menurut Made Sukada (dalam Sutresna, 2006:4), beliau menyatakan bahwa unsur karya sastra terdiri dari (1) elemen-elemen cipta sastra, meliputi insien, plot, karakterisasi (2)komposisi cerita, (3) teknik cerita, (4) gaya. Elemen cipta sastra merupakan isi sedangkan komposisi cerita, teknik cerita, dan gaya merupakan bentuk sastra. Sedangkan menurut Robert Stanton, analisis sebuah prosa harus dilakukan dengan mengetahui unsur-unsur yang membentuk prosa tersebut. Robert Stanton menyatakan bahwa ada tiga unsur yang membentuk sebuah karya sastra prosa, antara lain (1) masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.

Menurut Abrams ( Semi, 1985 : 13 ) teori struktural adalah bentuk pendekatan yang objektif karena pandangan atau pendekatan ini memandang karya sastra sebagai suatu yang mandiri. Ia harus dilihat sebagai objek yang berdiri sendiri, yang memiliki dunia sendiri, oleh sebab itu kritik yang dilakukan atas suatu karya sastra merupakan kajian intrinsik semata. Teori struktural memandang teks sastra sebagai satu struktur dan antarunsurnya merupakan satu kesatuan yang utuh, terdiri dari unsur-unsur yang saling terkait, yang membangun satu kesatuan yang lengkap dan bermakna. Abrams menambahkan bahwa suatu karya sastra menurut kaum strukturalisme merupakan suatu totalitas yang dibangun secara koherensif oleh berbagai unsur pembangunnya. Di suatu pihak struktur karya sastra dapat diartikan sebagai susunan, penegasan, dan gambaran semua bahan dan bagiannya yang menjadi komponennya secara bersama-sama membentuk kebulatan yang indah ( Sumiwati, 1997 : 7 ). Sependapat dengan hal itu Teeuw mengungkapkan bahwa bagaimanapun analisis struktural merupakan tugas prioritas bagi seorang peneliti sastra sebelum dia melangkah kepada hal-hal lain.

Ada banyak pendapat tentang unsur yang membangun sebuah karya sastra. Namun, kita akan menggunakan teori Robert Stanton untuk menganalisis Roman ATHEIS karena dari penjabaran yang telah diberikan, kita mampu melakukan penganalisisan secara lebih mudah. Untuk menganalisis sebuah Roman menurut teori Robert Stanton kita harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra yaitu, (1) masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.

1.6.1 Masalah dan Tema

1.6.1.1 Masalah

Masalah merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat dalam cerita sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat berbagai permasalahan yang sering dihadapi manusia. Permasalahan itu mungkin bersifat universal, tetapi bisa juga bersifat khusus dan pribadi dalam sebuah karya fiksi berkaitan dengan tema. Artinya, tema dapat disarikan dari pokok permasalahan yang diungkapkan dalam sebuah karya fiksi.

1.6.1.2 Tema

Tema merupakan dasar cerita yang paling penting dari seluruh cerita. Tanpa tema, sebuah cerita rekaan tidak ada artinya sama sekali. Selain itu, tema juga merupakan tujuan cerita, atau ide pokok di dalam suatu cerita yang merupakan patokan untuk membangun suatu cerita. Dengan kata lain, tema adalah suatu unsur yang memandu seorang pengarang sebagai ide utama atau pemikiran pokok, ke mana sebuah cerita akan diarahkan. Robert Stanton menempatkan tema sebagai sebuah arti pusat dalam cerita, yang disebut juga sebagai ide pusat dan Stanton juga menyatakan bahwa tema cerita berhubungan dengan makna pengalaman hidupnya. Oleh karena itu, tema menjadi salah satu unsur dan aspek cerita rekaan yang memberikan kekuatan dan sekaligus sebagai unsur pemersatu kepada sebuah fakta dan alat-alat penceritaan, yang mengungkapkan tentang kehidupan. Tema selalu dapat dirasakan pada semua fakta dan alat penceritaan di sepanjang sebuah cerita rekaan.

Tema tidak dapat dipisahkan dari permasalahan-permasalahan yang dikemukakan pengarang dalam karyanya sebab tema selalu berkaitan dengan masalah (kehidupan) yang dikemukakan dalam cerita rekaan tersebut. Akan tetapi tema tidak sama dengan masalah. Tema adalah suatu (hal) yang berkaitan dengan pandangan, pendapat, ataupun sikap pengarang tentang suatu masalah, sedangkan masalah adalah sesuatu hal yang haarus diselesaikan. Sebuah tema pada dasarnya merupakan abstraksi dari suatu masalah. Oleh karena itu, tema sebuah karya sastra haruslah diabstraksikan dari masalah utama yang diungkapkan pengarang dalam karyanya.

Tema merupakan gagasan sentral, ide sentral , pandangan hidup pengarang atau makna sentral yang menjadi dasar penyusunan karangan dan sekaligus merupakan suatu yang hendak diperjuangkan serta menjadi sasaran dari karangannya. Secara sederhana tema dapat diartikan inti cerita dalam sebuah cipta sastra. Ada juga ahli sastra yang menyatakan bahwa wujud tema dalam sastra berpangkal kepada alasan tidak (motif tokoh). Tema dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

1.6.1.2.1 Tema Minor

Tema minor adalah makna yang hanya terdapat pada bagian-bagian tertentu atau tema-tema kecil yang diungkapkan dalam sebuah cerita atau karya sastra, seperti moral, etika, agama, sosial, budaya, dan tradisi yang terkait dengan masalah kehidupan atau bisa berupa pandangan pengarang, ide pengarang, dan keinginan pengarang dalam menyiasati persoalan yang muncul. Tema-tema ini bersifat mendukung dan mencerminkan serta mempertegaskan eksistensi makna utama keseluruhan cerita.

Sebagai sebuah karya sastra imajinatif, tema dapat diungkapkan melalui berbagai cara, seperti melalui dialog tokoh-tokohnya, melalui konflik-konflik yang dibangun, atau melalui komentar secara tidak langsung. Karena itu, tema yang baik pada hakikatnya adalah tema yang tidak diungkapkan secara langsung dan jelas. Tema bisa disamarkan sehingga kesimpulan tentang tema yang diungkapkan pengarang harus dirumuskan sendiri oleh pembaca. Dalam hal ini, pengarang bisa saja mengungkapkan tema sentralnya dalam satu unit rangkaian cerita, tetapi bisa juga ia mengemukakan pada bagian-bagian tertentu, misalnya diakhir cerita. Begitu pula yang berkaitan dengan penyelesaian tema. Pengarang bisa mengungkapkan penyelesaian lewat akhir cerita, tetapi bisa juga ia menyerahkan penyelesaian tema kepada pembaca.

Menarik tidaknya sebuah tema akhirnya bergantung kepada kepiawaian pengarang. Semakin pendai ia menyamarkan tema tersebut melalui ungkapan-ungkapan simbolik atau tanda-tanda tertentu, maka semakin baik model tema yang diungkapkan. Karena pada dasarnya, menarik tidaknya sebuah tema bukan terletak kepada kebagusan jenis tema yang diungkapkan, melainkan bagamana pengarang mampu meramu tema tersebut dalam jalinan cerita yng menarik, penuh konflik, penuh kegelisahan sosial, batin dan rumah tangga, penuh kegelandangan (kebebasan hidup dan kesunyian hidup), penuh ke-absurd-an, dan menyatu dengan karakter tokoh-tokohnya.

1.6.1.2.2 Tema Mayor

Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum atau makna-makna tambahan yang mempertegasakan eksistensi makna karya itu. Penafsiran harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta itu secara keseluruhan dapat membangun cerita.

1.6.2 Fakta Cerita

Yang dimaksud dengan fakta cerita adalah segala sesuatu yang berkaitan atau berhubungan dengan tokoh dan penokohan, latar, dan plot atau jalan cerita, suspens, dan kredibilitas.

1.6.2.1 Tokoh

Pembicaraan mengenai alur pada dasarnya adalah pembicaraan mengenai rangkaian peristiwa dan kejadian dalam sebuah karya sastra khususnya cerpen atau novel, sedangkan peristiwa itu terjadi karena tindakan dan perbuatan manusia yang menjadi tokoh cerita dalam konfliknya sesama tokoh atau dengan lingkungannya. Henry James secara retorik menyatakan karakter (watak) sesungguhnya merupakan penentu bagi peristiwa dan kejadian. Sebaliknya, peristiwa merupakan ilustrasi atau pencerminan karakter tokoh. Saleh Saad menyatakan bahwa tokoh dan penokohan merupakan faktor penting yang harus ada dalam cerita sebab segenap peristiwa terjadi karena aksi/tindakan para tokoh cerita itu. Dengan kata lain, peristiwa dan kejadian di dalam roman ATHEIS karya Achdiat K Mihardja tidak dapat dipisahkan dan dilepaskan dari tokoh yang menyebabkan terjadinya peristiwa tersebut. Tokoh-tokoh dalam karya fiksi merupakan tokoh-tokoh rekaan. Tokoh-tokoh dalam sebuah cerita tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif atau tema. Semakin berkembangnya ilmu jiwa, terutama psiko-analisa merupakan satu alasan penting peranan tokoh cerita sebagai bagian yang ditonjolkan oleh pengarang (Sumardjo,1986:63). Koflik-konflik yang terdapat dalam suatu cerita yang mendasari terjalinnya suatu plot, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokohnya, baik yang bersifat protagonis maupun antagonis. Pada dasarnya tokoh dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua jenis, yakni (1) tokoh utama, (2) tokoh bawahan. Tokoh utama senantiasa berhubungan dalam setiap peristiwa dalam cerita (Stanton, 1984:17). Tokoh bawahan menurut Griemes (dalam Gunatama, 2005:78) merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang tokoh utama

1.6.2.2 Penokohan

Penokohan merupakan satu bagian penting dalm membangun sebuah cerita. Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan dengan berbagai cara (Tasrif dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5) discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of other about character. Penokohan berperan dalam menampilkan keseluruhan ciri atau watak seseorang tokoh melalui suatu percakapan (dialog) dan tingkah laku (action). Selain istilah perwatakan, digunakan dalam cerita, juga sering digunakan istilah watak tokoh dalam suatu cerita.

Pengggambaran watak tokoh dapat ditampilkan melalui teknik penyajian watak atau metode penokohan, diantaranya adalah (1) cara analitik, dan (2) cara dramatic (Saad, 1967:123-124 dalam Gunatama, 2005:79. untuk menilai karakter tokoh dapat dilihat dari apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan (Abrams, 1981:20). Identifikasi tersebut adalah didasarkan pada konsistensi atau keajegannya, dalam artian konsistensi sikap, moralitas, prilaku, dan pemikiran dalam pemecahan, memandang, dan bersikap dalam menghadapi setiap peristiwa. Masalah. Dengan bahasa yang berbeda, David Daiches menyebutkan bahwa karakter pelaku cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa dan bagaimana reaksi tokoh tersebut pada peristiwa yang dihadapi (Daiches, 1948:352). Peristiwa yang terangkai dalam cerita pada hakikatnya adalah rangkaian plot dengan demikian, membicarakan karakter pelaku tidak mungkin dapat dijelaskan dari plot dalam penghadiran karakter pelaku merupakan fungsi-fungsi plot (Frey, 1973:52 dalm Gunatama, 2005:79).

Kendatipun pemunculan watak dan karakter tokoh tidak dapat dilepaskan dari rangkaiaan peristiwa, bentuk dan model mengepresikan karakter tokoh yang dipakai oleh pengarang bisa bermacam-macam, yakni dari segi keterlibatan ada tokoh utama dan tokoh bawahan, dari segi watak dan karakter ada tokoh bulat dan tokoh datar, dari segi penokohan ada dengan cara langsung (phisycal description dan direct author analysis), yakni menggambarkan tampilan fisikalnya dan cirri-ciri khususnya (seperti prilaku, latar belakang, keluarga, kehidupan tokoh pada awal cerita). Sealin itu ada juga cara tidak langsung (potrayal of thoughstream of councious thought, reaction to event, discussion of envirounment, dan reaction of others of character), yakni mendiskripsikan karakter tokohnya. Karakter dibangun melalui kebiasaan berpikir, cara pengambilan keputusan dalam menghadapi setiap peristiwa, perjalanan karier, dan hubungannya dengan tokoh-tokoh lain, termasuk komentar dari tokoh-tokohyang satu dengan yang lainnya. Karena untuk menggambarkan karakter tokoh dalam model ini tidak dapat dilihat hanya dalam satu satuan waktu tertentu, melainkan harus dilihat dari sekuen peristiwa secara keseluruhan (Daiches, 1984:354). Model ini kadang-kadang terkait dengan peristiwa masa lalu atau degresi. Dari sini, biasanya pengarang mencoba menggambarkan tokoh utama melalui dialog antar tokoh dan kemudian membuat satu presentasi state of mind tahap demi tahap dihubungkan dalam satuan-satuan peristiwa. Watak tokoh yang diungkapkan pengarang mengair seirama dengan situasi yang dihadapi para tokoh, seperti bagimana tokoh-tokoh cerita menghadapi persoalan-peroalan tertentu, bagaimana pola pemikiran, konsitensi sikap, arus kesadaran perubahan emosional, bahasa yang dipakai, dan dalam setiap peristiwa yang dihadapi. Melalui dialog-dialog yang dikemukakan oleh pengarang, pembaca akan mengetahui sejauh mana moralitas, mentalitas, p[emikiran, watak, dan prilaku tokohnya. Karena itu, model ini disebut oleh Daiches (1948:354) sebagai teknik stream of consciousness.

1.6.2.3 Latar (Setting)

Dalam analisis cerita rekaan, latar atau setting juga merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi penentuan nilai estetik karya kesusastraan. Latar atau setting juga merupakan salah satu fakta cerita yang harus diperhatikan, dianalisis dan dinilai. Latar biasa juga disebut sebagai atmosphere atau setidak-tidaknya bagian atmosphere atau tone secara keseluruhan.

Pada cerita rekaan, boleh dikatakan hampir selamanya diperlukan dan dipentingkan latar cerita yang secara singkat dapat dikatakan berfungsi untuk membuat cerita rekaan tersebut supaya terasa lebih hidup, lebih segar, atau memberikan lukisan yang lebih jelas mengenai peristiwa-peristiwa, perwatakan tokoh, dan sebgainya sehingga seolah-olah sungguh-sungguh terjadi seperti dalam kehidupan manusia sehari-hari.

Pada dasarnya, latar adalah tempat terjadinya peristiwa dalam cerita pada suatu waktu tertentu. Dengan cara yang lebih luas, dapat dikatakan bahwa latar adalah lingkungan di sekeliling pelaku cerita, mungkin berupa sebuah kamar, lingkungan kehidupan sebuah rumah tangga, bahkan di dalamnya termasuk pula pekerjaan dan lingkungan pekerjaan para pelaku, alat-alat yang digunakan dan berhubungan dengan pekerjaan tokoh, dan sebagainya.

Latar landas tumpu adalah tempat terjadinya suatu cerita, yang termasuk ke dsala latar ini adalah tempat atau ruang yang dapat diamati. Sebagimana disebutkan Sumardjo dan Zaini K.M (1986:70) bahwa latar berkaitan atau berintegrasi dengan tema, watak, gaya, dan implikasi atau kaitan filosofisnya. Dalam haltertentu, latar harus mampu membentuk tema dan plot tertentu yang dalam dimensinya terkait dengan tempat, waktu, daerah, dan orang-orang tertentu dengan watak-watak tertentu akibat situasi dan lingkungan serta zamannya, cara hidup, cara berpikirnya.

Untuk mengetahui ketapatan latar dalam sebuah karya dapat dilihat dari beberapa indikator. Abrams (Gunatama, 2005:84) menyebutkan tiga indikator yang meliputi, yakni (1) general locale, (2) historycal time, (3) social cirxumstances. Barangkali dari indikator itulah akan dapat dilihat kesesuaian unsur-unsur pembentuk cerita. Jika indikator tersebutditerapkan dalam telaah latar sebuah karya sastra, bukan berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesisnya kaitannya dengan prilaku masyarakat dan dan watak para tokohnya sesuai dengan situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus diketahui sejauh mana kewajaran, logika, peristiwa, perkembangan karakter pelaku sesuai dengan pandangan masyarakat yang bberlaku saat itu. Menurut Toda (1984:41) bahwa latar itu adalah suatu kejadiaan terjadi yang dikenal sebagai ruang tokoh-tokoh melandaskan laku. Dan latar yang berupa alam dapat berfungsi dari keinginan manusia (Gunatama, 2005:84)

1.6.2.4 Alur

Alur merupakan kerangka dasar yang penting bagi sebuah karya cerkaan atau fiksi. Alur juga dapat diartikan serangkaian peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian dalam cerita yang disusun sebagai sebuah interrelasi fungsional yang sekaligus menandai urtan bagian-bagian dalam keseluruhan cerita. Luxemburg dkk,(1984 :149) menyebut plot atau alur adalah konstruksi yang dibuat pembaca mengenai sebuah deretan peristiwa yang secara logis dan kronologis saling berkaitan dan diakibatkan atau dialami oleh para pelaku.

Forster mendefininisikan cerita adalah pengisahan peristiwa demi peristiwa yang tersusun sedemikian rupa berdasarkan urutan waktu. Oleh karena itu, cerita merupakan sederetan kisah dan peristiwa yang tidak harus berhubungan dan belum tentu pula berkaitan satu sama lainnya. Secara sepintas, perbedaan antara batasan cerita dan alur agak kabur dan sedikit tersamar. Forster mmberikan batasan alur juga sebagai suatu rentetan penceritaan, tetapi penekanannya terletak pada hubungan kausalitas. Hubungan kausalitas tersebut tidak hanya dinyatakan dengan sangat eksplisit, tetapi juga mengandung suatu misteri, yaitu suatu bentuk pernyataan yang bisa dikembangkan dengan baik sekali.

Alur sebenarnya merupakan salah satu aspek intelektual dan logika dalam cerita rekaan, yang juga memerlukan misteri, yang membuat pembacanya mungkin meraba-raba dalam dunia yang tidak nyata. Alur adalah jalan cerita dalam sebuah cerpen dengan pengertian bagaimana cara pengarang menyuguhkan cerpennya kepada pembaca, bagaimana suatu cerita dirangkaikan antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain dalam hubungan kausalitas. Saleh Saad mencoba merumuskan pengertian alur sebagai sambung-sinambung peristiwa berdasarkan hukum sebab-akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Hubungan sebab-akibat dalam alur selalu menuntut kemampuan daya ingat dan kecerdasan berpikir pembaca agar dapat memahami sebuah cerita rekaan.

S. Tarif menyebut alur sebagai konflik yang merupakan tulang punggung sebuah novel. Konflik memang dapat dihadirkan dalam berbagai bentuk di sepanjang alur, seperti antartokoh cerita, antara tokoh dengan alam sekitarnya, dan intertokoh cerita yang biaasanya dikenal dengan konflik batin. Tanpa konflik, alur cerita tidak akan bergerak.

Secara garis besarnya, alur cerita rekaan ada dua bentuk, yaitu (1) alur lurus atau kronologis, dan (2) alur sorot balik (flashback). Alur disebut lurus, apabila peristiwa-peristiwa yang berfungsi sebagai unsurnya disusun secara beruruta, misalnya awal-tengah-akhir (Panuti-Sudjiman, 1988:30), atau mulai dari paparan (eksposisi), rumitan (komplikasi), klimaks, leraian, dan diakhiri dengan selesaian (Abrams, 1981:139). Sebaliknya, alur disebut sorot balik (flashback), apabila urutan kronologis peristiwa yang disajkan disela oleh peristiwa-peristiwa lain yang seharusnyaterjadi sebelumnya (Panuti-Sudjiman, 1988:33).

Ditinjau dari segi akhir cerita dikenal adanya alur terbuka dan alur tertutup. Alur disebut terbuka , apabila cerita berakhir pada klimaks. Sebaliknya alur disebut tertutup, apabila cerita berakhir pada suatu pemevcahan masalah atau penyelesaian (Semi, 1988 :4). Sedangkan ditinjau dari segi kuantitasnya dikenal adanya alur tunggal dan alur jamak. Suatu cerita dikatakan beralur tunggal, apabila cerita tersebut hanya memiliki sebuah plot utama. Sebaliknya, cerita itu dikatakan beralur jamak apabila cerita itu memeiliki lebih dari satu alur utama dan alur-alur utama itu sering bersinggungan pada titik tertentu. Artinya, segala peristiwa kecil-kecil yang melingkari peristiwa-peristiwa pokok yang membangun cerita (Semi, 1988 :44). Ditinjau dari segi kualitas cerita dikenal adanya alur rapat dan alur longgar. Sebuah cerita dinyatakan beralur rapat, apabila alur utama itu tideak memiliki celah untuk disisipi alur-alur lain. Artinya, bagian-bagian cerita itu diikat dengan erat agar peristiea-peristiwa itu tidak keluar dari cerita pokok. Sebaliknya, cerita itu dinyatakan beralur longgar, apabila ia memiliki kemungkinan adanya penyisipan alur lain. Artinya, bagian-bagian cerita itu tidak diikat erat sehingga dimungkinkan dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa lain (Semi, 1988 :44).

1.6.3 SARANA SASTRA

Menurut Stanton bahwa yang dimaksud dengan sarana saatra adalah cara atau metode pengarang memiliki dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung makna. Dapat juga dikatakan bahwa sarana sastra adalah unsur-unsur pendukung dalam sebuah karya sastra. Unsur-unsur tersebut mencakup, (1) judul, (2) gaya bahasa, (3) ironi, (4) pusat pengisahan, (5) nada dan gaya, (6) suasana, (7) simbol, (8) klimaks, (9) asosiasi dan imajinasi, (10) humor, (11) konflik, dan (12) tanda-tanda bahasa lainnya.

1.6.3.1 Judul

Judul adalah sebuah kata, prase, atau nama dan label yang digunakan untuk menandai karya bertalian dengan masalah dan tema cerita

1.6.3.2 Konflik

Konflik adalah pertentangan dalam cerita rekaan antara dua kekuatan, pertentangan di dalam diri satu tokoh dan pertentangan antara dua tokoh.

1.6.3.3 Gaya (style)

Gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa dalam karyanya. Ide dan perasaan sering tampak nyata seperti fakta fisikal meskipun tidak tampak dan tidak dapat diraba. Dalam karya sastra salah satu cara untuk membuatnya seperti nyata ialah dengan menggunakan simbol sehingga ide dan perasaan itu dapat mudah diterima dalam angan-angan pembacanya. Mnurut Stanton, simbolisme dalam karya fiksi memiliki manfaat tergantung bagaimana penggunaannya. Pengertian simbolisme sastra mungkin membuat pembaca lebih bingung daripada penertian sarana cerita lainnya. Namun, simbolisme tidaklah aneh dan sulit dengan sendirinya. Alasan itu didasarkan bahwa hampir semua simbol dalam sastra tidak lebih merupakan fakta yang tampaknya masuk akal. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian besar simbol sastra mengungkapkan arti untuk mana simbol konvensional tidak muncul. Oleh karena itu, masalah kita sebagai pembaca ada dua hal, yaitu untuk mengetahui pernyataan-pernyataan itu sebagai simbol atau bukan, dan mencari makna yang diungkapkan

1.6.3.4 Pusat Pengisahan

Dalam menyuguhkan ceritanya, pengarang dapat menggunakan beberapa sudut pandang dalam arti seorang pengarang bisa mengambil atau memilih suatu posisi serta kedudukan tertentu terhadap kisah yang akan ditulisnya. Ada kalanya seorang pengarang hanya mengambil posisi sebagai orang luar saja, berada di luar cerita yang dikisahkannya. Akan tetapi, kemungkinan juga pengarang akan mengambil posisi sebagai salah seorang tokoh yang melibatkan diri serta ikut bermain dan mengambil peranan dalam cerita tersebut tanpa mengurangi sifat rekaan cerita itu. Baik mengambil posisi sebagai orang luar maupun melibatkan diri sebagai pemeran atau tokoh, namun tokoh cerita itu sendiri tetap merupakan tokoh rekaan pengarang.

Pusat pengisahan merupakan salah satu sarana sastra (literary device) dan cara bercerita dari titik pandang mana atau siapa cerita dilukiskan. Pusat pengisahan menerangkan “ siapa yang bercerita ” (Saad, 1976:125). Hal ini penting untuk mendapatkan gambaran tentang kesatuan cerita. Pusat pengisahan ini menunjukan pertallian antara pencerita (narator) dengan ceritanya. Ada beberapa cara sudut pandang yang oleh Wellek dan Austin (1976:222-223) disebut metode sudut pandang dalam mengisahkan cerita, yakni (1) penceria atau narator dapat mengisahkan cerita orang lain sebagai orang ketiga atau dengan metode orang ketiga (metode dia, mereka), (2) pencerita atau narator menceritakan kisahnya sendiri disebut metode orang pertama (metode aku). Metode orang pertama ada dua macam, yakni (a) metode orang pertama sertaan, disini narator menceritakan pengalaman atau ceritanya sendiri, si pencerita menyebut tokoh utamanya sebagai aku. Jadi, disitu narrator ber-aku mengisahkan dirinya sendiri, (b) metode aku tak sertaan, narrator sebagai akumenceritakan tokoh utama, baik tooh utama ber-aku maupun diceritakan sebagai dia atau mereka. Jadi, di sini aku tak sertaan sebagai “saksi” terhadap cerita orang lain yang menjadi tokoh utama yang di ceritakan.

1.6.3.5 Nada dan Gaya

Nada merupakan sikap emosional pengarang yang dihadirkan dalam karya sastra. Hal ini mungkin berupa sikap romantis, ironis, misterius, gembira, tidak sabar, keras, atau yang lainnya. Ketika pengarang menghayati perasaan tokoh, dan ketika perasaan itu tercermin dalam lingkungannya, maka nada it identik dengan atmosfir. Atau, dengan kata lain, nada adalah gaya penuturan pengarang dalam suatu karyanya. Misalnya, nada cerita dibangun sebagaian dengan fakta cerita, seperti pembunuhan dengan kampak agaknya memiliki nada yang mengerikan.

1.6.3.6 Aliran

Aliran dalam suatu karya sast4ra biasanya berkembang dalam satuan waktu tertentu. Dalm setiap periode sastra, umumnya selalu diikuti oleh suatu aliran yang menjadi mode pada waktu itu. Aliran ini dapat dikatakan sebagai suatu paham atau pandangan yang dapat digunakan sebagai metode kerja dalam sastra dan seni pada umumnya. Ada beberapa aliran sastra yang dikenal dan pernah menjadi ciri khas, panutan dan mode pengarang Indonesia diantaranya adalah aliran romantismr, romantis-idealisme, romantis-realisme, ekspresionisme, impresionisme, naturalisme, surealisme, eksistensialisme, strukturalisme, meteralisme, dan lain-lain. Aliran-aliran ini sering memberikan kerancuan makna karena medan kajiannya berbeda, tetapi pada hakikatnya dasar aliran tersebut sama.

1.6.3.7 Klimaks

Klimaks adalah majas penegasan dengan urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat dari gagasan sebelumnya dan berakhir pada gagasan yang paling penting atau menarik.

BAB II

SINOPSIS CERITA ROMAN ATHEIS

Judul : ATHEIS

Pengarang : Achadiat K. Mihardja

Penerbit : Balai Pustaka

Kota Terbit : Jakarta

Cetakan ke : Emapat belas

Tahun Terbit : 1994

Jumlah halaman : 232 halaman

Ringkasan Cerita :

Sebelum Hasan pindah ke Bandung, untuk meneruskan sekolahnya, di Mulo dia adalah seorang pemuda yang sangat taat terhadap agama. Hal ini memang sesuai dengan keadaan di daerahnya yaitu daerah Penyeredan, dimana kehidupan agama Islam begitu kental. Kedua orang tuanya merupakan pemeluk agama Islam ortodok dan ikut dalam suatu kelompok tarekat agama tertentu.

Selama di Mulo, Hasan berpacaran dengan seorang gadis yang bernama Rukmini, yaitu teman sekolahnya di Mulo. Namun cinta mereka harus kandas ditengah jalan, sebab Rukmini kemudian harus menerima lamaran seorang saudagar kaya dari Jakarta karena hal tersebut merupakan permintaan dari kedua orang tuanya. Akibat kegagalan cintanya dengan Rukmini itu Hasan menjadi sangat prustasi. Untuk melupakan Rukmini, Hasan masuk kesuatu aliran terekat agama yang juga dianut oleh kedua orangtuanya.

Kehidupan agama Hasan yang kuat, dan ketekunannya dalam beribadah mulai terusik dan goyah ketika teman masa kecilnya Rusli yang pada waktu itu memperkenalkan seorang janda yang bernama Kartini. Kartini adalah potret seorang perempuan yang hidup dalam lingkungan modern. Pada akhirnya Hasan jatuh cinta dengan janda itu karena wajahnya yang mirip dengan mantan kekasihnya Rukmini.

Pada awalnya, karena Hasan adalah seorang yang taat beragama, dia tergugah dan hendak menyelamatkan Rusli dan Kartini yang tidak beragama itu. Rusli dan Kartini telah beberapa kali dinasehatinya dan diberi khotbah agama supaya sadar dan mau kejalan yang benar. Namun karena Rusli itu termasuk orang yang pintar berbicara dan memiliki pengetahuan yang luas, Hasan lama-kelamaan malah berbalik. Malah dia yang mulai terpengaruh pada pikiran-pikiran Rusli maupun Kartini. Keimanan Hasan makin lama makin lemah akibat kedekatannya dengan kedua orang itu. Semakin lama semakin lemah sinar keimanan Hasan, yaitu ketika Rusli memperkenalkannya dengan seorang pemuda yang berpikiran anarkis yang bernama Anwar. Karena imannya yang sudah sangt lemah, serta pikiran-pikiran Anwar dan teman-temannya yang anarkis sudah mempengaruhi dan merasuk dalam tubuh Hasan, Hasan pada tahap selanjutnya sudah mulai dan berani melawan ayahnya.

Kedekatannya dengan janda Kartini yang bebas itu, kemudian membawanya pada pernikahan yang dilakukan secara bebas pula. Namun kehidupan keluarga Hasan dan Kartini tidak berjalan dengan bahagaia dan tidak berlangsung lama, sebab Hasan maupun Kartini sama-sama manusia modern dan selalu ingin berbuat atau berkehendak bebas. Kartini yang bebas selalu bergaul dengan bebas pada siapa saja, termasuk pada Anwar. Bahkan menurut pandangan Hasan, antara karini dengan Anwar sudah terjadi sebuah perselingkuhan.

Akibat prahara dan keruwetan rumah tangganya itu, malah berdampak baik pada Hasan. Kesadarnnya akan dosa, baik terhadap Tuhan maupun kedua orang tuanya mulai bangkit lagi. Akhirnya Hasan memutuskan untuk meninggalkan teman-temannya yang sesat itu dan menceraikan Kartini untu kembali kejalan Tuhan yaitu jalan kebenaran. Setelah bercerai dengan Kartini, Hasan kembali ke kampungnya, dimana dia ingin memohon ampun atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuatnya kepada kedua orang tuanya. Namun sayang ayahnya menolak permintaan maaf anaknya itu, sampai akhirnya dia meninggal dunia.

Hati Hasan begitu hancur mendapat kenyataan itu. Dia sedih karena disaat-saat ayahnya sudah hamper menghembuskan nafas terakhir, tetapi belum mendapat maaf dari ayahnya. Di atas segala keputusasaannya itu, Hasan mencari sumber utama mengapa dia sampai menjadi orang yang begitu jahat yang sangat bertolak belakang dengan kehidupannya yang dahulu. Setelah dipikir-pikir, ternyata menurut pikiran Hasan bahwa penyebab semua itu adalah Anwar. Dengan nafsu ingin membunuh dan dendam yang sangat membara, Hasan ingin mencari Anwar dan membalas dendam. Karena matanya yang sudah dibutakan oleh dendam, Hasan tidak menghiraukan keadaan sekelilingnya. Padahal pada waktu itu keadaan sangat bebahaya. Bunyi sirine meraung-raung dimana-mana, dia tidak peduli. Dia terus mencari Anwar. Namun naasnya, sebelum bertemu dengan Anwar, Hasan tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang menembus tubuhnya. Hasan terkapar ditengah jalan, di atas aspal berlumuran darah. Sebelum meninggal Hasan sempat mengucapkan Allahu Akbar, sebagai tobat dan penyesalan atas segala dosa yang telah diperbuatnya.

BAB III

TELAAH ROMAN ATHEIS

MENURUT TEORI ROBERT STANTON

Untuk menganalisis atau menelaah sebuah Roman menurut teori Robert Stanton kita harus memperhatikan unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra yaitu, (1) masalah dan tema, (2) fakta cerita, dan (3) sarana sastra.

3.1 Masalah dan Tema

3.1.1 Masalah

Masalah merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat dalam cerita sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat berbagai permasalahan yang sering dihadapi manusia. Permasalahan itu mungkin bersifat universal, tetapi bisa juga bersifat khusus dan pribadi dalam sebuah karya fiksi berkaitan dengan tema. Artinya, tema dapat disarikan dari pokok permasalahan yang diungkapkan dalam sebuah karya fiksi.

Masalah yang tedapat dalam roman ATHEIS sangat komplesks. Masalah-masalah tersebut dapat dipilah sebagai berikut, (1) masalah percintaan, (2) masalah status sosial, (3) masalah hubungan komunikasi suami-istri, (4) masalah anak dengan orang tua, (5) masalah pergolakan sosial budaya dengan pribadi.

3.1.1.1 Masalah Percintaan

Roman ATHEIS ini mengisahkan problematika cinta, baik yang dialami oleh Hasan dengan Rukmini, Hasan dengan Kartini, maupun Kartini dengan Anwar. Keempat tokoh ini masing-masing memiliki masalah percintaan yang berbeda-beda. Kisah percintaan antara Hasan dan Rukmini harus putus di tengah jalan karena kedua orang tua mereka sama-sama tidak menyetujuinya. Padahal kisah kasih mereka sedang bersemi, namun mendak layu seketika. Akhirnya mereka memutuskan untuk memilih jalan masing-masing, karena menghormati kedua orang tuanya. Rukmini akhirnya menikah dengan seorang saudagar kaya dan pindah ke Jakarta. Sedangkan Hasan bekerja pada kantor pemerintahan di kota Bandung. Walaupun keduanya masih saling mencintai, pada zaman itu belum ada yang berani memutuskan kehidupannya sendiri. Mereka masih taat dan patuh kepada orang tua.

Berbeda dengan kisah cinta Hasan dengan Rukmini, kisah cinta Hasan dengan Kartini berjalan lancar. Kartini yang pada saat itu berstatus janda dapat menaklukan hati Hasan. Wajah Kartini yang mirip dengan Rukmini, menambah ketertarikannya pada Kartini. Hasan mulai tergila-gila dengan Kartini. Kisah cinta mereka terus mengalir seiring berjalannya waktu. Cinta mereka dapat disatukan, dan kemudian mereka akhirnya menikah.

Tidak demikian halnya dengan kisah cinta Anwar. Anwar yang sudah lama mencintai Kartini harus kandas. Kartini yang mencintai Hasan menolak perasaan Anwar. Cinta Anwar pun akhirnya bertepuk sebelah tangan. Anwar yang memang orang yang keras kepala, tetap tidak berubah perasaannya terhadap Kartini. Dia terus mendekati Kartini, walaupun kini semakin berhati-hati karena Kartini telah menjadi milik Hasan.

3.1.1.2 Masalah Status Sosial

Dalam roman ATHEIS, masalah status sosial juga diangkat. Permasalahan ini timbul antara golongan haji kosasih, yaitu seorang pedagang besar di kota Bandung dengan golongan raden atau menak, permasalahn ini juga timbul karena dipicu oleh kisah cinta antara Hasan dengan Rukmini. Hasan yang berstatus sebagai keturunan raden atau menak, harus melepaskan Rukmini yang sangat dicintainya karena Rukmini adalah keturunan haji kosasih.

3.1.1.3 Masalah Hubungan Komunikasi Suami-Istri

Masalah hubungan komunikasi suami istri dalam roman ATHEIS, terjadi dalam kehidupan rumah tangga Hasan dengan Kartini. Karena tidak adanya komunikasi yang baik, dan juga karena rasa cemburu yang tunggi membuat Hasan menjadi gelap mata. Dia menceraikan istrinya Kartini karena kedekatannya dengan Anwar. Hasan tidak menghiraukan penjelasan dari Kartini. Hasan tetap yakin pada pendsapatnya bahwa Kartini berselingkuh dengan Anwar. Walaupun pada kenyataannya itu tidak pernah terjadi. Kartini hanya menganggap Anwar sebagai teman biasa. Karena komunikasi yang kurang baik antara Hasan dengan Kartini, akhirnya rumah tangga mereka berantakan. Mereka akhirnya bercerai.

3.1.1.4 Masalah Anak Dengan Orang Tuanya

Roman ATHEIS, juga mengangkat permasalahan antara anak dengan orang tuanya. Masalah ini terjadi antara Hasan dengan orang tuannya. Sejak kecil Hasan yang telah dididik dengan ilmu agama sehingga menjadi anak yang patuh dan saleh, tiba-tiba saja berubah. Perubahan ini terjadi setelah Hasan pindah ke kota Bandung. Hasan tidak lagi menjalankan perintah agam dan sudah tidak pernah sembahyang lagi. Mengetahui hal tersebut, ayahnya berusaha menyadarkan Hasan. Namun karena pengaruh yang besar dari teman-temannya, Hasan membantah perkataan ayahnya. Hasan mulai berani melawan orang tuanya. Ayah Hasan sangat marah dan kecewa melihat perubahan yang terjadi pada anaknya. Karena tidak sanggup melihat perubahan pada anaknya, ayah Hasan menjadi sakit dan akhirnya meninggal dunia. Walau sebelum meninggal Hasan sempat berusaha meminta maaf, tetapi karena terlanjur kecewa terhadap Hasan, ayahnya tidak mau memaafkannya sammpai akhirnya meninggal dunia.

3.1.1.5 Masalah Pergolakan Sosial Budaya Dengan Pribadi

Dalam roman ATHEIS ini masalah yang juga diangkat adalah mengenai pergolakan sosial budaya dengan pribadi. Hasan merupakan seorang yang sangat rajin bersembahyang dan taat terhadap perintah agama dan juga orang tua, tiba-tiba berubah. Hasan tidak lagi menghiraukan agama karena pengaruh teman-temannya. Namun, setelah berapa lama, Hasan mulai menyadari kekeliruannya. Hasan sadar kalau telah banyak melakukan dosa dan kekeliriuan. Hasan mulai insyaf setelah ayahnya meniggal dunia. Dalam diri Hasan terjadi pergolakan yang sangat besar. Ada dua hal yang bertentangan merasuk kedalam diri Hasan. Antara kinginan untuk kembali kejalan yang benar dan keinginan untuk melanjutkan yang tidak benar. Ternyata pengaruh lingkungan kehidupan sosial budaya sangat berpengaruh terhadap kehidupan Hasan. Hasan yang semula begitu taat beragama berubah menjadi orang yang tak acuh.

3.1.2 TEMA

Dalam roman ATHEIS yang dijadikan sebagai tema adalah tentang kehidupan sosial masyarakat. Dalam roman ATHEIS ini, hal yang paling mendasar yang dijadikan sebagai tema adalah cerita tentang bagaimana kehidupan agama seseorang yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena pendidikan agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi lingkungan sebuah kota besar. Tema dalam roman ini sungguh sangat memikat dan pantas kalau roman ini menjadi salah satu bacaan wajib bagi pelajar dan mahasiswa.

3.1.2.1 Tema Minor

Dalam roman ATHEIS yang merupakan tema minor adalah masalah etika dan agama. Dalam roman ini kita menemukan adanya pertentangan etika dan masalah agama antar tokoh-tokohnya. Disatu sisi Hasan yang memiliki etika yang baik harus bergaul dengan Kartini dan Anwar yang memiliki etika yang kurang baik. Dalam roman ini kita mengetahui bagaimana keteguhan hati dan etika Anwar bisa berubah karena pengaruh dari tokoh Kartini dan Anwar. Walau pada akhrinya Hasan mulai sadar akan kekeliruannya, tapi semua itu sudah terlambat. Hasan sudah terlanjur menyakiti hati kedua orangtuamya, dan samapi akhir hayatnya Hasan tidak memperoleh maaf dari ayahnya. Agama juga merupakan hal yang sangat penting dan dijadikan tema minor dalam roman ini. Agama sebagai suatu kepercayaan dan tatanan kehidupan harus berubah dari norama-norma yang sudah digariskan. Kita menemukan bagaimana keragu-raguan Hasan menghadapi pengaruh globalisasi dan pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Roman ini menggambarkan kekuatan iman Hasan harus goyah karena pengaruh dari teman-temanya, yaitu Anwar dan Kartini.

3.1.2.2 Tema Mayor

Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum atau makna-makna tambahan yang mempertegasakan eksistensi makna karya itu. Penafsiran harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta yang ada. Fakta-fakta itu secara keseluruhan dapat membangun cerita.

Dalm roman ini yang merupakan tema mayor adalah tentang kehidupan agama seseorang yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena pendidikan agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi lingkungan sebuah kota besar

3.2 Fakta Cerita

Yang dimaksud dengan fakta cerita adalah segala sesuatu yang berkaitan atau berhubungan dengan tokoh dan penokohan, latar, dan plot atau jalan cerita, suspens, dan kredibilitas.

3.2.1 Tokoh

Tokoh-tokoh dalam karya fiksi merupakan tokoh-tokoh rekaan. Tokoh-tokoh dalam sebuah cerita tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga berperan untuk menyampaikan ide, motif atau tema. Semakin berkembangnya ilmu jiwa, terutama psiko-analisa merupakan satu alasan penting peranan tokoh cerita sebagai bagian yang ditonjolkan oleh pengarang (Sumardjo,1986:63). Koflik-konflik yang terdapat dalam suatu cerita yang mendasari terjalinnya suatu plot, pada dasarnya tidak dapat dilepaskan dari tokoh-tokohnya, baik yang bersifat protagonis maupun antagonis. Pada dasarnya tokoh dalam sebuah cerita dibagi menjadi dua jenis, yakni (1) tokoh utama, (2) tokoh bawahan. Tokoh utama senantiasa berhubungan dalam setiap peristiwa dalam cerita (Stanton, 1984:17). Tokoh bawahan menurut Griemes (dalam Gunatama, 2005:78) merupakan tokoh yang tidak sentral kedudukannya dalam cerita, tetapi kehadirannya sangat diperlukan untuk menunjang tokoh utama

Dalam roman ATHEIS yang berperan sebagai tokoh utama adalah (1) Hasan dan (2) Kartini. Kedua tokoh ini dalam roaman atheis senantiasa hadir dalam setiap kejadian atau peristiwa. Sedangkan yang berperan sebagai tokoh adalah (1) Rusli, (2) raden wiradikrama dan istinya (orangtua Hasan), (3) Rukmini, (4) Anwar, (5) haji dahlan, (6) bung parta, (7) nata, dan (8) sitis.

Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan berbagai cara (Tasrif dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5) discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of other about character. Penggambaran watak tokohnya dapat ditampilan melalui teknik penyajian watak atau metode penokohan, diantaranya adalah (1) cara analitik, dan (2) cara dramatik (Saad dalm gunatama 2005:78)

3.2.2 Penokohan

Penokohan merupakan satu bagian penting dalm membangun sebuah cerita. Penggambaran tokoh suatu cerita rekaan dapat ditampilkan dengan berbagai cara (Tasrif dalam Gunatama, 2005 :78), diantaranya (1) phisycal description, (2) potrayal of thoughstream of councious thought, (3) reaction to event, (4) direct author analysis, (5) discussion of envirounment, (6) reaction of others of character, dan (7) conversation of other about character. Penokohan berperan dalam menampilkan keseluruhan ciri atau watak seseorang tokoh melalui suatu percakapan (dialog) dan tingkah laku (action). Selain istilah perwatakan, digunakan dalam cerita, juga sering digunakan istilah watak tokoh dalam suatu cerita.

Dalam roman ATHEIS terdapat beberapa tokoh serta karakteristiknya, seperti :

1. Hasan

Seorang pemuda berpendidikan yang awalnya begitu lekat dengan kehidupan agama karena memang didikan agama yang baik dari kedua orangtuanya. Namun dalam perkembangannya, setibanya dikota Bandung, kehidupan Hasan mulai berubah menjadi orang yang setengah-setengah terhadap agamanya.

Berikut adalah kutipan yang menggambarkan kepribadian Hasan,

Pada usia lima tahun aku sudah dididik dalam agama. Aku sudah mulai diajari mengaji dan sembahyang. Sebelum tidur, ibuku sudah biasa menyuruh aku menghafal ayat-ayat atau surat-surat dari alquran. Sahadat, salawat dan kyhlu, begitu juga fatehah aku sudah hafal dari masa itu. Juga nyanyi puji-puji kepada Tuhan dan Nabi.

Selain daripada itu banyak aku diberi dongeng tentang surga dan neraka. Dan biasanya ibu mendongeng itu sambil berbaring di sampingku, setengah memeluk aku. Dan aku menengadah dengan mataku lurus melihat ke para-para tempat tidur seperti melihat layar bioskop. Maka terpaparlah di atas layar itu bayang-bayang khayalku tentang peristiwa-peristiwa dalam neraka.

Anak yang nakal, yang tidak mau bersembahyang akan masuk nerak, begitu kata ibu. “di neraka anak yang nakal itu akan direbus dalam kancah timah yang bergolak-golak. Tidak ada yang bisa menolong, ibu bapaknya pun tidak bisa menolong.

Pada kutipan di atas, kita dapat mengetahui bahwa Hasan semasa kecilnya adalah seorang anak yang penurut. Dia termasuk anak yang baik,karena sejak kecil sudah diajarkan sembahyang dan ilmu agama yang baik. Hasan juga telah dididik dengan budi pekerti yang luhur.

2. Rusli

Seorang pemuda teman Hasan yang telah sangat terpengaruh oleh kehidupan kota besar. Dan dia inilah yang mempengaruhi kehidupan Hasan. Rusli merupakan orang yang modern kehidupannya. Dunia barat dan globalisasi telah mempengaruhi kehidupan dan pola pikirnya.

Hanya dalam dua hal kami kami tidak pernah bersama-sama, yaitu kalau Rusli berbuat nakal, dan apabila aku sembahyang. Orang tuaku melarang nakal, menyuruh sembahyang. Orang tua Rusli tak peduli.

Dan kalau kami bersama-sama pergi ke masjid, maka aku untuk sembahyang, sedang Rusli untuk mengganggu khatib tua yang tuli atau untuk memukul-mukul bedug. Dan tak jarang pula aku sendiri diganggunya dalam sembahyang, dikili-kilinya telingaku, aku dipeluknya dari belakang, kalau aku sedang berdiri hendak melakukan rekaat pertama.

Rusli bercerita, bahwa setelah tamat dari dari sekolah rendah di tasik malaya, ia lantas mengunjungi sekolah dagang di jakarta. Tapi tidak tamat, hanya sampai kelas tiga, oleh karena ia lantas tertarik oleh pergerakan politik. Sebagai seorang pemuda yang berkobar-kobar semangat kebangsaannya, ia masuk anggota salah satu anggota partai politik. Setelah partai politik tersebut dilarang dan banyak pemimpin-pemimpinnya ditangkap, maka Rusli menyingkir ke singapura.

Di kota besar itu ia banyak bergaul dengan kaum pergerakan dari segala bangsa. Nafkah dicarinya dengan jalan bekerja sebagai sopir taksi, tempo-tempo berdagang kecil-kecilan. Soal nafkah memang tidak menjadi soal berat bagi rusli, oleh karena sebagai seorang pemuda bujangan ia tidak mempunyai banyak kebutuhan.

(Atheis, hal 35)

Dari kutipan tersebut, kita telah dapat mengetahui bagaimana karakter dan watak Rusli. Rusli merupakan seorang pemuda yang cukup ulet dan semangatnya berkobar-kobar untuk mengikuti pergerakan. Sifat ini memang sudah ada sejak Rusli masih kecil. Rusli tidak pernah menjalankan sembahyang dengan baik. Rusli termasuk anak yang nakal karena kuang mendapat perhatian dari orang tuanya.

3. Orangtua Hasan

Adalah orang tua yang sangat taat beragama, yang dengan tekun mendidik Hasan terhadap pelajaran-pelajarann agama. Mereka asangat menyayangi Hasan. Bagi mereka hasan adalah segalanya dan harus mendapat yang terbaik. Sejak kecil mereka te;lah mendidik hasan untuk menjadi orang yang baik dan berguna pada suatau saat. Mereka juga orang tua yang sangat taat dan patuh terhadap perintah agama. Hal ini dapat kita temukan pada kutipan berikut,

Ia seorang pensiunan manteri guru. Dengan pensiunannya yang besarnya hanya enam puluh rupiah, ia bisa hidup sederhana di kampung itu. Sebelum pensiun, berpindah-pindah saja tempat tinggalnya. Mula-mula sebagai guru bantu di kota tasik malaya, lantas pindah ke ciamis, ke banjar dan beberapa tempat kecil lgi, sampai pada akhirnya ia dipensiun sebagai menteri guru di ciamis.

Ayah dan ibuku tergolong orang yang sangat saleh dan alim. Sudah sedari kecil jalan hidup ditempuhnya dengan tsbeh dan mukena. Iman islamnya sangat tebal. Tidak ada yang lebih nikmat dilihatnya daripada orang yang sedang bersembahyang, seperti tidak ada pula yang lebih nikmat bagi penggemar film daripada menonton film bagus.

Memang baik ayah maupun ibuku kedua-duanya keturunan keluarga yang alim pula. Ujung cita-cita mereka mau menjadi haji. Tapi oleh karena kurang mementingkan soal mencari kebendaan, maka mereka tidaklah mampu untuk melaksanakan pelayaran ketanah suci. (Atheis, hal 16-17)

Dari kutipan di atas, kita dapat mengetahui bagaimana kehidupan dan watak orang tua Hasan. Mereka hidup dalam kesederhanaan, tetapi imannya terhadap agama sangat tinggi. Mereka merupakan orang-orang yang saleh dan beriman.

4. Rukmini

Rukmini adalah seorang perawan atau gadis yang sangat dicintai oleh Hasan , namun Rukmini kemudian menikah dan menjadi istri seorang saudagar di Jakarta.

Rukmini adalah seorang anak haji kosasih. Yaitu seorang pedagang besar di kota bandung. Ia baru saja tamat sekolah kepandaian putri yang diselenggarakan oleh missie. Tapi biarpun bersekolah katolik, ia tetap rajin melakukan sembahyang, berpuasa, dan lain-lain lagi perintah agama islam. Memang perasaan keagamaan pada gadis itu sangat tebal. Walaupun begitu, ia tidak kaku dalam pergaulan, selalu riang dan ramah, suka sekali bercakap-cakap dan pandai pula bersolek. Cita-citanya sama dengan aku, mau mengabdi dan memajukan agama kita. (Atheis, hal 48)

Dari kutipan tersebut, kita telah mengetahui bagaimana watak dari Rukini. Dia adalah seorang gadi yang pintar dan juga baik hati. Ilmu agamanya cukup tinggi dan juga seorang perempuan yang saleh, rukmini gadis yang pandai bergaul dan juga panda menjaga perasaan orang lain.

5. Kartini

Seorang perempuan modern, yang selanjutnya menjadi kekasih dari Hasan. Kartini merupakan seorang perempuan yang sangat modern. Hal ini karena pengaruh perkembangan zaman dan pergaulan kartini yang sangat luas.

matanya lincah berikilau-kilauan. Ia memakai kebaya crepe warna kuning mengkilap. Pada dadanya sebelah kiri terklukis sekuntum bunga aster berwarna nila dengan tiga helai daunnya yang hijau tua. Kainnya jelamprang yang dipakaikan secara “gejed mulo” artinya demikian rupa hingga dalam dia melangkah, betisnya yang kuning langsep itu seolah-olah tilem timbul, sekali langkah kelihatan, sekali lagi tertutup oleh kainnya. Sehelai kain leher yang panjang dari sutera hijau muda berbunga-bunga merah membelit kendur pada lehernya. Bibirnya merah dengan lipstic dan pipinya memakai roug yang tidak terlalu merah. Segala-galanya serba modern, tetapi tepat sederhana, tidak berlebih-lebihan”.(Atheis, hal 40)

Kutipan di atas bagaimana penampilan kartini yang menunjukan bahwa ia merupakan seorang perempuan yang modern dan dinamis. Tingkah lakunya memang banyak terpengaruh dengan kehidupan modern. Namun kemodernan Kartini masih tetap sederhan dan menambah kecantikannya.

6. Anwar

Anwar seorang pemuda anarkis, yang begitu mempengaruhi kehidupan Hasan. Anwar seorang pemuda yang begitu kental dengan kehidupan pergerakan. Ia merupakan tokoh pemuda yang cukup berpengalaman dengan dunia pergerakan. Selain itu anwar juga merupakan seorang pemuda yang selalu ingin diperhatikan oleh orang lain. Dalam kutipan berikut akan digambarkan bagaimana sifat dan karakteristik Anwar.

“ bagi Anwar hal itu agaknya kurang menyenagkan hatinya. Sudah biasa ia menjadi pusat perhatian orang. Berusaha menjadi pusat. Kalau Bung Parta melucu, Anwarlah yang paling keras tertawanya.kalau Bung Parta mengemukakan pendapat atau suatu teori, anwarlah yang paling dahulu berseru: betul! Betul! Betul! Dan kalau Bung Parta menyeropot kopi manisnya, maka anwar pulalah yang mempersilakan orang-orang lain meminum kopinya atau mengambil kue-kuenya. Dia sendiri menjangkau lagi pisang goreng.

Tapi rupanya cara demikian itu belum cukup juga bagi Anwar. Ia mau lebih mendapat perhatian umum. Barangkali juga memang ia mau mengemukakan pendapatnya secara jujur. Pendeknya, Bung Parta yang selama ini tidak pernah didebati orang, tiba-tiba mendapat perdebatan dari Anwar”.

Kutipan tersebut, memberikan kita gambaran tentang bagaimana karakteristik anwar. Dia adalah seorang anarkis yang selalu ingin menjadi pusat perhatian. Dari kutipan tersebut, kita juga mengetahui bahwa anwar adalah seorang yang suka mencari muka dihadapan orang lain. Dan satu hal yang lain, adalah bahwa anwar orang yang cukup rakus dan suka makan.

7. Siti

Siti adalah seorang babu yang soleha. Dia juga seorang babu yang memiliki iman yang cukup kuat. Ia sangat pandai dalam mendongen. Siti merupakan seorang babu yang bisa mengerti tentang keadaan hasan. Semasa kecil, hasan banyak meluangkan waktu bersama dengan siti.

Siti suka sekali mendongeng, dan sebagai biasanya pandai pula ia mendongeng. Dan tentu saja yang biasa didongengkannya itu dongeng yang hidup subur diantara para santri itu. Aku seakan-akan bergantung kepada bibirnya, mendengarkan. Terutama sekalai kalau siti menceritakan abunawas dan raja harul al-rasyid.

Tapi biarpun begitu tidak ada cerita yang lebih berkesan dalam jiwaku yang masih hijau itu daripada cerita-cerita yang plastis tentang hukuman-hykyman neraka yang harus didrita oleh orang-orang yang berdosa didalam hidupnya di dunia.

‘mereka’ kata siti harus melalui sebuah jembatan pisau yang sangat tajam, lebih tajam daripada sebuah pisau cukur, sebab pisau itu tajamnya seperti shelai rambut dibelah tujuh. (Atheis, hal 23)

Dari kutipan di atas kita dapat mengetahui bahwa siti merupakan seorang babu yang memiliki pengetahuan cukup tinggi tentang agama islam. Hal ini dapat kita simpulkan dari dongeng-dongeng yang disampaikan oleh siti. Kesimpulan ini juga ditunjang dari latar belakang siti yang merupakan seorang santri yang taat.

8. Nata

Nata adalah seorang jongos atau pembantu laki-laki. Nata sendiri adalah suami dari siti. Sama dengan siti, natapun adalah seorang santri yang cukup taat. Dalam hal ini nata merupakan seorang santri yang cukup memiliki pikiran yang kritis tentang agama islam. Kita dapat melihat karakter dari nata, berdasarkan kutipan berikut ini.

Untuk harmoni di dalam rumah tangga, maka babu dan bujang punterdiri dari sejodoh orang-orang yang alim juga. Nata, lakinya pernah belajar mengaji pada sebuah pesantren. (Atheis, hal 23)

Kutipan tersebut memberikan kita gambaran betapa nata, maupun istrinya merupakan orang yang saleh. Nata merupaka sosok suami yang memiliki tanggung jawab terhadap istri dan pekerjaan.

9. Bung Parta

Bung parta adalah seorang tokoh pergerakan. Ia sangat pandai menyampaikan atau mengemukakan gagasan tentang dunia pergerakan. Dalam menyampaikan pandangan-pandangannya itu, ia serinng menggunakan lelucon untuk lebih meresap apa yang disampaikannya itu, sehingga lebih mudah diterima oleh pendengarnya. Berikut adalah kutipan yang menyatakan bagaimana karakteristik bung parta.

Ketika masih berumur kira-kira 17 tahun, ia sudah turut berjuang dikalangan serekat islam. Ia pandai sekali berpidato. Sebagai propagandais dan demagog rupanya sukar mencari bandingannya, suatu tenaga yang luar biasa bagi SI. Akan tetapi kemudian ia bertukar haluan. Ia terpengaruh oleh aliran sosialis radikal yang ketika itu baru mulai merembes ke tanah air kita Indonesia. Maka serekat islam lantas ditentangnya dengan keras-kerasnya. Pernah ia berpidato di salah sebuah rapat umum yang diadakan pada bulan puasa. Begitulah ceritanya dengan berkelakar. Di atas podium ia lantas minum dimuka hadirin yang kebanyakannya terdiri dari orang-orang islam yang berpuasa. Tentu saja berteriak-teriak serta memaki-maki , malah ada juga yang melempar-lempar dengan apa saja yang bisa dilemparkannya ke podium. (Atheis, hal 112)

Kutipan diatas menggambarkan bagaimana sifat dan perwatakan dari bung parta. Ia merupakan seorang tokoh yang cukup radikal dan memiliki pengaruh yang besar. Dalam kehidupannya, ia sudah mengalami berbagai kejadian yang membuat pengalamnnya bertambah.

10. Haji Dahlan

Haji dahlan adalah seorang haji yang berasal dari banten. Nama aslinya sebelum jadi haji adalah wiranta. Haji dahlan merupakan seorang haji yang memiliki ilmu atau pandangan yang cukup luas tentang ajaran agama islam. Hal ini dapat kita ketahui dari kutipan berikut.

Banyak sekali serta dengan penuh semangat haji dahlan menguraikan pendapatnya tentang agama islam. “apa artinya bungkusan kalau tidak ada isinya. Betul tidak kak? Yang kita perlukan terutama isinya, bukan? Tapi biarpun begitu, isipun tidak akan sempurna kalau tidak berbungkus. Ambil saja mentega atau minyak samin. Akan sempurnakah makanan itu kalau tidak dibungkus? Kan tidak. Atau pisang ini? Oleh karena itu, maka sereat, tarakat, hakekat,dan makrifat semuanya itu sama=sama perlu bagi kita. Sereat yaitu ibarat buungkus, tarekat yaitu….tapi ah, lebih baik saya ambil kiasan yang lebih tepat. Kiasan mutiara saja. Mutiara itumakrefat hakekat, tujuan kita. Sareat yaitu kapal.tenaga dan pedoman kita untuk mendayung kapal dan kemudian menyelam kedasar segara untuk mengambil mutiara itu, ialah tarekat. Kita tidak mungkin dapat mutiara kalau tidak punya kapal dan tidak punya tenaga serta pedoman untuk mendayung dan menyelam ke dalam segara. Alhasil se,muanya perlu ada dan perlu kita jalankan bukan? Kapal tidak akan ada artinya kalau kita tidak ada tenagauntuk mendayungnnya dan tidak ada pula pedoman melancarkan ke jalan yang benar. Itulah maka sareat dan tareka perlu kedua-duanya, bukan?”

(Atheis, hal 17-18)

Dari kutipan tersebut, kita mengetahui bahwa bagaimana karakter dari haji dahlan. Beliau adalah seorang haji yang memiliki kemampuan dalam berkotbah yang cukup baik. Beliau mampu menyampaikan ajaran-ajaran agama islam melalui perbandingan-perbandingan atau contoh-conntoh. Dengan contoh-contoh tersebut, orang yang diajak berbicara lebih cepat mengerti teentang apa yang disampaikan. Haji dahlan merupakan seorang haji yang cukup baik, karena telah mau memberikan nasehat kepada orang lai8n tentang ajaran agama.

3.2.3 Latar (Setting)

Untuk mengetahui ketapatan latar dalam sebuah karya dapat dilihat dari beberapa indikator. Abrams (Gunatama, 2005:84) menyebutkan tiga indikator yang meliputi, yakni (1) general locale, (2) historycal time, (3) social cirxumstances. Barangkali dari indikator itulah akan dapat dilihat kesesuaian unsur-unsur pembentuk cerita. Jika indikator tersebutditerapkan dalam telaah latar sebuah karya sastra, bukan berarti bahwa persoalan yang dilihat hanya sekedar tempat terjadinya peristiwa, saat terjadinya peristiwa, dan situasi sosialnya, melainkan juga dari konteks diagesisnya kaitannya dengan prilaku masyarakat dan dan watak para tokohnya sesuai dengan situasi pada saat karya tersebut diciptakan. Karena itu, dari telaah yang dilakukan harus diketahui sejauh mana kewajaran, logika, peristiwa, perkembangan karakter pelaku sesuai dengan pandangan masyarakat yang bberlaku saat itu. Menurut Toda (1984:41) bahwa latar itu adalah suatu kejadiaan terjadi yang dikenal sebagai ruang tokoh-tokoh melandaskan laku. Dan latar yang berupa alam dapat berfungsi dari keinginan manusia (Gunatama, 2005:84)

3.2.3.1 Latar Tempat

Latar ini berhubungan dengan masalah tempat suatu cerita terjadi. Wujud latar ini secara konkrit menampilkan (1) latar tempat di luar rumah, dan (2) latar tempat di dalam rumah. Kedua latar ini melingkupi pelaku atau tempat terjadinya peristiwa ataupun tempat terjadinya peristiwa ataupun seluruh cerita. ; lingkungan kehidupan , misalnya lingkungan sekolah, dan lingkungan pabrik ; sistem kehidupan, misalnya kehidupan perguruan tinggi ada rektor, dekan, dosen, dan mahasiswa ; alat-alat atau benda, misalnya di pabrik ada mesin dan lori ; dan watak terjadinya peristiwa, misalnya pagi, siang, sore, bulan agustus, dan musim kemarau.

1. latar tempat di luar rumah

Roman ini sebagian besar mengambil latar atau setting daerah Pesundan, baik itu kehidupan agama masyarakatnya, adapt istiadatnya, maupun kehidupan sosial masyarakatnya..

Di lereng gunung telaga Bodas di tengah-tengah pegunungan Priangan yang indah, terletak sebuah kampung, bersembunyi dibalik hijau pohon-pohon jeruk Garut yang segar dan subur tumbuhnya berkat tanah dan hawa yang nyaman dan sejuk. Kampung penyeradan namanya. Kampung itu terdiri dari kurang lebih dua ratus rumah kecil. Yang kecil yang jauh lebih besar jamlah-jumlahnya dari yang besar, adalah kepunyaan buruh-buruh tani yang miskin, dan yang besar ialah milik petani-petani kaya(artinya yang mempunyai tanah kurang lebih sepuluh hektar) yang disamping bertani, bekerja juga sebagai tengkulak-tengkulak jeruk, dan hasil bumi lainnya. Di antara rumah-rumah kecil dan rumah-rumah besar dari batu itu, ada lagi beberapa rumah yang dibikin dari setengah batu. Artinya, lantainya dari tegel tapi dindingnya hanya sampai kira-kira seperempat tinggi dari batu, sedangkan atasnya dari dinding batu biasa. Rumah-rumah demikian itu kepunyaan penduduk yang sentana, artinya yang mempunyai tanah barang sehektar duahektare. (Atheis, hal 16)

Dari kutipan tersebut telah menggambarkan latar tempat dan kehidupan masyarakat pedesaan di desa panyeradan di daerah pasundan. Kutipan tersebut menggambarkan secara diteil mengenai tempat sebuah peristiwa, serta tatanan kehidupan yang berlaku.

Loket bagian jawatan air dari kota praja tidak begitu ramai seperti biasa. Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya. Memang haripun sudah jam satu lebih. Yang masih berderet di muka loketku hanya beberapa orang saja. Aku asyik meladeni mereka. Seorang demi seorang meninggalkan loket setelah diladeni. Ekor yang terdiri dari orang-orang itu makin pendek, hingga pada akhirnya hanya tinggal satu orang saja. (Atheia, hal 30)

Kutipan tersebut menggambarkan tentang suasana Kotapraja tempat Hasan bekerja. Ini merupakan salah satu latar yang diambil di daerah kota bandung.

Dalam roman atheis yang juga dijadikan latar adalah kota tasik malaya. Kota ini merupakan tempat sekolah hasan bersama rusli.

Saat itu pula dua badan yang terpisah oleh dinding, sudah tersambung oleh sepasang tangan kanan yang erat berjabatan. Mengalir seakan-akan rasa persahabatan yang sudah lama itu membawa kenangan kembali dari hati ke hati melalui jabatan tangan yang bergoyang-goyang naik turun seolah-olah menjadi goyah karena derasnya aliran rasa ini. Kepalaku seakan-akan turut tergoncangkan, mengeleng-geleng sambil berkata,”astaga, tidak mengira kita akan berjumpa lagi ya. Sudah lama ya kita tidak berjumpa? Sejak kapan?

Saya rasa sejak sekolah HIS, di tasik malaya dulu, sejak itu kita sudah tidak pernah berjumpa lagi. (Atheis, hal 31)

Roman atheis secara umum dapat menggambaerkan pergerakan tokoh hasan, atu perpindahan yang dilakukan. Semasa kecilnya, hasan tinggal bersama kedua orangtuanya di panyandaran. Ini berlangsung dari kecil sampai siap bersekolah. Setelah berseekolah, hasan pendah ke tasik Malaya, tepatnya ia bersekolah di HIS. Disinilah ia mulai bertemu dengan rukmini, dan mulai menjalin perasaan cinta. Disini pula hasan dan rusli bersekolah bersama. Enam tahun mereka bersekolah disini. Seyelah tamat sekolah HIS, hasan kembali ke panyadaran. Ia dan kartini bersama dengan rusli kembali ke kampung. Tapi setelah itu, hasan mendapat pekerjaan di bandung, kemudian ia pun pergi kebandung untuk bekerja.

Berikut ini adalah diagram yang menyatakan latar dari roman ATHEIS.


2

1








4



2. latar tempat di dalam rumah

latar tempat di dalam rumah dapat diamati melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam rumah. Gambaran latar di dalam rumah dapat di temukan di rumah Hasan (di penyendaraan), rumah hasan (di bandung), rumah rusli kebon mangga 11.

Berikut adalah kutipan yang berlatar tempat di rumah Hasan di penyandaraan.

‘’ ibu didapur segera diberi tahu tentang niatku itu. Maka berlinaglah air mata ibuku.. syukurlah anakku.

Aku tertunduk haru, terasa tangan yang terletak di atas bahuku bergetar, dan begitu juga suaranya. ‘’ (Atheis, hal 26)

‘’ tiga malam haji dahlan menginap di rumah orang tuaku. Pada hari kedua, sepulang berjumat di masjid. Sambil duduk-duduk dan minum-minum di tengah rumah ‘. (Atheis, hal 17)

‘ Selain dari pada itu banyak aku diberi dongeng tentang surga dan neraka. Dan biasanya ibu mendongeng itu sambil berbaring-baring dalam tempat tidur, sebelum aku tidur. Ia berbaring di sampingku, setengah memeluk aku. Dan aku menengadah dengan mataku lurus melihat ke para-para tempat tidur seperti melihat layar bioskop. (Atheis, hal 21)

”Ah saudara, silakan masuk, saudara rusli menegurku dengan ramah ketika dilihatnya aku masuk halaman menyandarkan sepeda pada tembok.

Sepedanya dikunci saja bung.

Pintu menggerit dibuka oleh rusli. Aku masuk.

Silakan duduk bung.

Nampaknya rusli belum mandi.kulit mukanya seperti orang jepang. “

(Atheis, hal 34)

“Di kamarku ada kaca besar,” kata rusli

“Boleh saya” tanya kartini bangkit

“Tentu saja, kenapa tidak boleh! Tak usah kuhantarkan toh?” sahut rusli berolok-olok.

“aku suda besar. Tahu jalan. Jangan takut, takan tersesat” jawab kartini tertawa sambil menghilang ke dalam kamar. (Atheis, hal 41)

Biar bi, saya tunggu bibi saja, ‘sahutku melangkah ke sebuah kursi malas di sudut serambi tengah.

Dengan lesu kehempaskan diri ke atas kursi malas itu. Berbaring mengadah ke para-para dengan berbantal tangan. Cecak-cecak bekejar-kejaran. Bercerecak suaranya. Ada yang berebut-rebutan nyamuk atau kupu-kupu kecil, ada juga yang bercumbu-cumbuan. Seakan-akan cecak-cecak itu sengaja mau memperingatkan aku kepada dua hal atau soal hidup yang terdapat serentak di muka mataku. Mempertahankan hidup diri sendiri dan mempertahankan hidup sejenis. (atheis, hal 48)

Dari kamar makan aku terus saja masuk kekamar tidur. Lampu kunyalakan sebab terasa belum ngantuk. Kusiakkan kelambu, sebab ingin berbaring-baring sambil merokok. Enak merokok sesudah makan. Padahal aku tidak boleh banyak merokok. (Atheis, hal 50)

Pada kutipan pertama menggambarkan latar didalam rumah Hasan. Dalam kutipan tersebut kita bisa melihat bahwa latar beakang yang digunakan adalah dapur. Latar tempat ini menggambarkan watak dari ibu hasan yang sangat begitu mencintai anaknya, dan sangat sayang kepada hasan. Latar tersebut juga menggambarkan suasana keharuan yang sangat mendalam.

Kutipan kedua berlatar tempat di rumah tengah atau ruang tengah. Di ruang tengah terjadi pembicaraan antara haji dahlan dengan ayah, ibu serta hasan. Pada saat ini haji dahlan sedang memberikan ceramah tentang ajaran agama. Di dalam latar tersebut juga terlihat adanya suasana keakraban antara keluarga hasan dengan haji dahlan.

Kutipan ketiga juga menggambarkan suasana rumah hasan, tepatnya mengambil latar belakang di kamar tidur hasan, tepatnya di tempat tidur hasan. Latar ini juga menggambarkan suasana ke iobuan yang sangat tinggi. Rasa kasih sayang seorang ibu kepada anaknya yang sangat dicintainya. Latar ini juga memberikan kita gambaran bahwa seorang ibu selalu ingin memberikan yang terbaik kepada anaknya. Begitu juga yang dilakukan oleh ibu Hasan. Dengan memberikan dongeng-dongeng tentang moral, ia mengharapkan anaknya menjadi orang yang baik dan bermoral.

Pada kutipan keempat, menggambarkan tentang rumah rusli. Latar ini mengambil latar belakang ruang tengah rumah rusli. Latar ini terjadi pada saat hasan untuk pertama kalinya berkunjung ke rumah rusli. Dalam latar ini menggambarkan suasana keakraban dan keramahan rusli.

Kutipan kelima juga menggambarkan rumah rusli. Latar blakang tempat ini adalah kamar tidur rusli yang berisi cermin besar. Latar ini menggambarkan bagaimana keadaan rumah rusli, khusunya kamar tidur yang berisi cermin yang besar. Latar ini menggambarkan keramahan rusli terhadap kartini. Pada saat kartini ingin merperbaiki make upnya, rusli mempersilahkan ke kamarnya.

Berbeda dengan kutipan kelima, kutipan keenam mengambil latar di rumah kos-kosan hasan. Latar belakang peristiwa ini terjadi di ruang tengah ketika hasan hendak makan. Latar ini menggambarkan bagaimana suasana ruang tengah yang terdapat sebuah kursi malas di sudut ruangan. Selain itu, latar ini juga menggambarkan suasana hati hasan yang sangat kacau. Rasa malasnya menggerogoti hasan.

Kutipan ketujuh menggambarkan latar di rumah hasan, yang menjadi latar belakangnya adalah kamar tidur hasan. Kutipan ini menggambarkan bagaimana keadaan tempat tidur hasan, yabng memiliki kelambu. Latar ini juga menggambarkan keresahan hati hasan. Hasan memikirkan masalah yang cukup berat.

3.2.3.2 Latar Waktu

Latar waktu selalu berkaitan dengan saat berlangsung suatu cerita. Oleh karena itu, waktu sangat penting dalam suatau cerkan karena tidak mungkin ada rentetan peristiwa tanpa hadirnya sang waktu (Wellek dan Austin Varrren, 1956:223). Itulah sebabnya karya sastra termasuk seni waktu (time art)

Latar waktu dalam roman ATHEIS ditandai oleh penunjuk waktu dari awal sampai akhir roman tersebut, dapat dibagi berdasarkan rentangan waktu, yaitu (1) diakronis, dan (2) sinkronis.

1 Secara Diakronis

Secara keseluruhan (diakronis), roman ATHEIS berlatar waktu kurang lebih tigapuluh tahun. Rentang waktu togapuluh tahun tersebut dapat disimpulkan dari paparan sebagai berikut.

Pada bagian awal cerita dari roman ATHEIS, dilukiskan kehidupan Hasan ketika masih hidup di desa panyendaran. Pada saat itu usia Hasan baru menginjak lima tahun. Setelah usia enam tahun hasan masih tinggal bersama kedua orang tuanya.

Ketika sekolah ditasik malaya, hasan kira-kira sudah berumur tujuh tahun. Lama hasan bersekolah enam tahun. Pada saat itu, berarti hasan sudah berumur tiga belas tahun. Pada saat itulah hasan mulai berpisah dengan rusli, teman baiknya di kampung dan teman satu sekolahnya di tasikmalaya. Setelah berpisah, hasan dan rusli mencari kehidupannya masing-masing. Hasan melanjutkan sekolah, begitu juga dengan rusli. Hanya saja rusli tidak menyelesaikan sekoklahnya, sedangkan hasan sampai selesai. Rusli setelah tidak bersekolah berpetualang sampai ke singapura. Dari jakarta, ia pindah ke singapura dan bekerja sebagai sopir taksi. Lain halnya dengan hasan, setelah selesai dengan sekolahnya, hasan melanjutkan pendidikan agama. Hasan mulai memperdalam ajaran agamanya dengan masuk kedalam sebuah aliran, yang juga diikuti oleh orang tuanya.

Hasan dan rusli baru bertemu kembali setelah berpisah selama lima belas tahun. Mereka bertemu kembali ketika ruali hendak memasang saluran air. Hasan dan rusli bertremu ditempat hasan bekerja.

Berselang satu tahun, akhirnya hasan dan kartini menikah. Namun, perjalanan rumah tangga mereka tidak berjalan lama. Rumah tangga mereka hanya bertahan selama tiga tahun. Mereka memutuskan untuk bercerai, karena sudah tidak ada kecocokan dan keharmonisan. Api cemburu membakar hasan sehingga membutakan mata hatinya. Melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam rentang tahun tersebut, maka latar waktu diakronisnya adalah tiga puluh tahun.

Disamping latar waktu secara diakronis, terdapat juga latar waktu bagian dari hari, bagian dari bulan, bagian dari tahun, dan bagian dari penunjuk waktu lainnya. Semua penunjuk waktu tersebut dinamakan penunjuk waktu secara sinkronis.

2 Secara Sinkronis

2.1 Latar Waktu Bagian Hari

latar waktu bagian hari adalah latar waktu terjadinya peristiwa pada bagian dari hari, baik pagi, siang, sore, maupun malam hari. Dalam roman ini ditampilkan latar waktu yang berupa bagian dari hari berikut ini.

Malam itu aku merasa kecewa, karena sudah masak ku idamkan akan berkunjung kerumah rusli sore itu, tapi rusli pergi. (Atheis, hal 58)

Sampai di rumah magrib menyambut aku dengan tabuh. Aku terbaring ke kamar madi mengambil air wudhu. (Atheis, hal 44)

Tepat jam setengah lima seperti telah dijanjikan, aku tiba di rumah rusli. Tidak susah mencari nomor sebelas. (Atheis, hal 34)

Loket bagian jawatan air dari kota praja sudah tidak begitu ramai seperti biasa. Ruangan di muka loket-loket yang berderet itu sudah tipis orang-orangnya. Memang haripun sudah menunjukan jam satu lebih. (Atheis, hal 30)

Kutipan-kutipan di atas menunjukan latar waktu bagian dari hari. Hal ini tampak dengan jelas karena adanya penanda waktu yang merupakan bagian dari hari seperti,

- malam itu

- maghrib menyambut

- tepat jam setengah lima

- jam satu siang lebih

Penanda waktu tersebut menggambarkan waktu atau kejadian yang terjadi tidak lebih dari sehari. Kejadian ini terjadi sebagai bagian dari waktu.

2.2 Latar Waktu Bagian Dari Minggu, Bulan, Dan Tahun

Latar waktu bagian dari minggu, bulan, dan tahun tampak pada kutipan berikut.

Tiga malam haji dahlan menginap di ruah orang tuaku. Pada hari kedua, sepulang berjumat di mesjid sambil duduk-duduk dan minum-minum di tengah rumah ayah berkata kepada haji dahlan, “kakak, lihat adik selalu memetik tasbih” (Atheis, hal 16)

Sebulan kemudian ayahku memecahkan celengannya, dan dengan uang yang ada di dalamnya itu berangkatlah ia ke banten bersama-asama dengan ibu.

(Atheis, hal 19)

Pada suatu hari ayah pulang dari pasar. Dibawanyasebagai oleh-oleh sehelai kain dan sebuah peci kecil untukku. (Atheis, hal 22)

Hari rabo dan kamis aku tidak masuk kantor. Salahku sendiri juga. Kenapa dalam malm yang sedingin itu, aku jalan-jalan ke luar dengan hanya berpakaian piyama yang tipis saja sehingga aku masuk angina. (Atheis, hal 87)

Hari sabtu kantor-kantor pemerintahan hanya bekerja sampai jam satu siang. (Atheis, hal 99)

Sudah empat bulan lalu, sejak aku bertemu dengan rusli dan kartini. Makin hari, makin rapatlah pergaulan kami bertiga. (Atheis, hal 107)

Mulutnya masih menggigit piasang goring. Ternyata sudah dua hari yang lalu anwar pindah ke rumah rusli. (Atheis, hal 111)

Seminggu bung parta harus berobat di rumah skit. Sebab kepalanya benjol-benjol kena tinju halayak yang katanya nyata masih kuat memukul, walaupun sedang berpuasa. (Atheis, hal 113)

1 oktober. Ku hitung dengan jari. Februari, maret, april, mei,………… tiga tahun setengah kira-kira sejak 12 februari 1941. sejak aku kawin dengan kartini. (Atheis, hal 165)

Kutipan di atas menggambarkan latar bagian dari minggu, bulan, dan tahun. Hal ini dikarenakan ada penanda atau identitas yang menyatakan bahwa kutipan tersebut berlatar waktu yang merupakan bagian dari minggu, bulan, dan tahun sebagai berikut,

- tiga malam

- suatu hari

- hari Rabo dan Kamis

- hari Sabtu

- seminggu

- sebulan

- Oktober

- Februari

- Maret

- April

- Mei

Kata-kata tersebut merupakan identitas yang sangat menentukan kapan terjadinya sebuah peristiwa. Kata-kata tiga malam, suatu hari, hari Rabo dan Kamis, dan hari Sabtu menunjukan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada latar waktu yang merupakan bagian dari hari. Sedangkan kata seminggu, menunjukan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada latar yang merupakan bagian dari bulan. Sementara kata-kata seperti sebulan, Oktober, Februari, Maret, April, dan Mei merupakan kata-kata yang menunjukan bahwa sebuah peristiwa terjaddi pada latar waktu yang merupakan bagian dari tahun.

3.2.3.3 Latar Social

Latar social sudah tentu mengangkat status social seorang tokoh cerita dalam kehidupan sosialnya. Latar dan lingkungan social yang melatarai roman ATHEIS berkaitan dengan status dalam masyarakat dan lapangan pekerjaan atau penghasilan para tokoh. Oleh karena itu, latar social dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu latar social menengah, (latar sosial rendah). Ini berarti, kedua latar itu jelaslah bahwa tema dan perwatakan akan saling bekaitan dengan latar sosial tersebut. Untuk mendapatkan gambaran status social tokoh-tokoh dalam cerita ini, berikut dipaparkan gambaran masing-masing tokoh.

1. Latar Social Menengah

Yang termasuk dalam latar social menengah ini adalah kelompok yang berlatar social menengah mencakup tokoh yang berpendidikan menengah pula. Termasuk di dalmnya lingkungan guru, pegawai, pekerja social, pegawai, pedagang, pelajar, dan mahasiswa. dalam roman ATHEIS, menampilkan latar social menengah melalui tokoh-tokohnya yaitu,

a. Hasan

b. Rusli

c. Kartini

d. Anwar

e. Raden Wiradikarta dan istri

f. Bung Parta

g. Rukmini

Hasan adalah tokoh yang berlatar social menengah karena ia meneruskan sekolah sampai menengah. Kemudian setelah tamat Hasan bekerja sebagai pegawai di kota praja. Tokoh hasan adalah tokoh yang mempunyai pemikiran yang baik, tetapi pada akhirnya ia terpengaruh pula pada hal-hal yang kurang baik tersebut. Keinginan awalnya untuk meluruskan pikiran rusli dan kartini, tetapi pada akhirnya ia sendiri yang terpengaruh oleh pola piker rusli dan kartini.

Rusli juga merupakan tokoh yang berlatae social rendah. Hal ini karena ia menyelesaikan sekolah menengah, kemudian setelah tamat sekolah menengah, ia mengikuti derakan bawah tanah. Ia melakukan hal itu, karena terpanggil oleh semangat kepemudaan. Semangat yang ingin membuat hal-hal yang lenih maju.

Tokoh kartini juga merupakan tokoh yang berlatar social rendah. Latar ini diterima oleh kartini, karena ia merupakan seorang wanita yang bergelut dalam bidang politik, walaupun tidak secara aktif. Kartini juga merupakan seorang wanita yang berpikiran modern. Hal ini karena adanya pengaruh dari kehidupan metropolitan yang dijalaninya selama ini.

Sama dengan tokoh rusli, tokoh anwar juga berlatar social rendah karena keikut sertaannya dalam organisasi politik. Anwar juga ikut dalam pergwerakan yang menginginkan perbaikan disegala lini kehidupan. Anwar merupakan pemuda yang anarkis, dan selalu ingin mencari perhatian dari orang lain.

Raden wiradikarta dan istrinya merupakan orang tua dari hasan. Mereka masuk latar status social menengah karena bekerja sebagai seorang guru pada waktu itu. Setelah pension mereka menetap di sebuah perkampungan.

Tokoh bung parta merupakan tokoh yang berlatar social menengah karena kedudukannya sebagai pembicara. Bung parta memiliki peranan yang cukup penting untuk memberikan semangat kepada kader partai yang muda-muda. Hal ini karena kemampuannya untuk meenyampaikan pembicaraan yang cukup menarik. Pembicaraan yang diselingi dengan lelucon.

Rukmini merupakan tokoh yang berlatar social menengah karena status pendidikannya. Rukmini bersama dengan hasan berhasil menyelesaikan sekolah menengah. Mereka besar betrsama. Rukmini juga memiliki pemikiran dan cita-cita yang luhur untuk memajukan agama islam.

2. Latar Sosial Rendah

Latar berstatus sosial rendah yang ditampilkan dalam roman atheis adalah tokoh siti dan suaminya, serta bibi tempat hasan indekost. Tokoh-tokoh ini berstatus sosial rendah karena berasal dari orang kebanyakan.

3.2.3.4 Latar Alat

keadaan seorang tokoh dapt menunjukan pekerjaan, keadaan, dan suasana tokoh. Aspek-aspek inilah yang juga ikut melatari karya sastra karena melalui pendeskripsian latar alat dapat mengetahui gambaran tindakan atau peristiwa tokoh secara konkrit sebagai penanda cirri keteraturan suatu cerita. Dalam roman atheis, gambaran latar alat dapat diketahui melalui identitas tokoh-tokohnya, seperti tokoh utama (hasan) , dan tokoh-tokoh lainnya pada kutipan berikut.

Maka meloncatlah aku dengan tiba-tiba dari tempat tidurku, bergegar ke meja tulis. Kubuka salah satu lacinya, mengambil sebuah album dari dalamnya. Kemudian kembali ke tempat tidur, berbaring lagi setengah duduk, membuka-buka album. Agak lama kutatap potret rukmini. (Atheis, hal 52)

Esok harinya ehabis sembahyang ashar, aku sudah mendayung lagi ke kebon minggu. Hatiku penuh harapan dan kesanggupan. Melancarlah sepedaku didorong optimisme. (Atheis, hal 56)

Panas rasanya dalam dadaku. Melangkah aku ke meja yang ada di tengah ruangan, di bawah lampu. Seekor kecoak terbang dari bawah poci. Ku tuangkan air the ke dalam cangkir, seakan-akan dengan harapan supaya segala perasaanyang mengganggu ituakan hilang tertuangkan dari kalbuku seperti air the dari dalam poci itu. Minumlah aku beberapa teguk. Segar rasanya. Tapi sebentar kemudian terganggu lagi oleh perasaan-perasaan tadi itu, seolah-olah perasaan itu masuklah kembali ke dalam jiwaku bersama air teh yang kuteguk.

Aku melangkah lagi ke kursi malas. Berbaring lagi. Ramailah lagi rapat besar. (Atheis, hal 59)

Aku duduk seraya membebaskan mata melihat-lihat keadaan dalam serambi muka itu. Sekarang segala-galanaya sudah beres teratur. Tidak banyak perkakas rumahnya di serambi itu. Hanya satu stel kursi, tempat aku duduk, dan sebuah dipan rapat pada dinding sebelah kiri yang ditilami dengan sehelai kain batik. Selanjutnya di sudut kanan sebuah meja kecil dengan sebuah kursi makan di belakangnya, yang bila menilik buku-buku dan tempat tinta yang ada di atasnya menunjukan bahwa meja itu dipakai untuk menulis. Kesan itu diperkuat pula oleh sebuah kalender yang kadang-kadang bergelebar-gelebar alon-alon tertiup angina kecil bergantung di sebelah kanan yang penuh dengan buku-buku. Pada dinding tergantung pula beberapa pigura yang melukiskan potret orang-orang yang tidak aku kenal. (Atheis, hal 62)

Rusli berhenti sebentar, menyeringsing lagi ke dalam sapu tangannya. Rupanya membikin waktu untuk berpikir dulu? (Atheis, hal 66)

Sebentar kemudian rusli kembali lagi dari belakang dengan dua gelas air the dalam kedua belah tangannya, yang ditaruhnya di atas meja, satu untuk dia dan satunya lagi untukku. (Atheis, hal 68)

Diputar-putarnya rokok diantara bibirnya. Ditariknya hisapan dua kali. Asap berkepul-kepul. Meludah-ludah kecil, membuang-buang potongan tembalau yang melekat pada bibirnya. (Atheis, hal 69)

Ia lantas duduk depan piano dengan setengah membelakangi kami. Tutup piano dibukany. Lantas membuka-buka lembaran buku musik. (Atheis, hal 92)

Kartini lari kedapur. Hamper menabrak lagi si mimi yang memanjangkan lehernya ingin mengetahui tapi takut-takut.kartini tak acuh. Terus menyerbu ke dapur mengambil air hangat sendiri untuk hasan. (Atheis, hal 96

Kutipan pertama, menggambarkan kamar tudur hasan yang berisitempat tidur dan meja tulis. Jarak antara tempat tidur dengan tempat tidur tidaklah begitu jauh, sehingga dengan mudah hasan dapat mengambil potret dari dalam laci. Latar ini juga menggambarkan kegelisahan hati hasan. Kegelisahan ini disebabkan karena hasan memikirkan rukmini dengan kartini. Menurut pandangan hasan, antara rukmini dan kartini memiliki kemiripan. Untuk membandingkan antara rukmini dengan kartini, hasan mengambil potret rukmini. Pikirannya melayang-layang, bingung menentukan pilihan.

Pada kutipan kedua, menggambarkan latar alat yang digunakan oleh hasan yaitu sepeda. Pada saat ini hasan sedang ingin berkunjung ke rumah rusli sahabatnya. Sepeda ini adalah kendaraan sehari-hari yang selalu menemani hasan. Kendaraan sepeda ini dibawa hasan baik untuk bekerja ke kantor, maupun mengunjungi teman-temannya.

Kutipan ketiga menggambarkan latar di rumah hasan, yaitu ruang tengah. Latar ini menggambarkan hasan menggunakan beberapa latar alat seperti meja, poci, dan cangkir, serta kursi malas. Latar ini memberikan gambaran bahwa latar ini terjadi di ruang tengah karena keterangan yang diberikan dalam latar alat. Selain itu, latar ini juga memberikan gambaran tentang suasana hati hasan yang sedang risau dan tak menentu. Hasan sedang mengalami kegelisahan yang sangat besar. Hasan sedang memikirkan perbedaan panangan antara hasan dengan rusli. Hasan masih berusaha bersikukuh bahwa pendapatnya itu benar, tetapi pendapat yang dilontarkan oleh rusli terus terngiang dalam ingatan hasan. Hal inilah yang menimbulkan kegundahan dalam hati hasan.

Dalam kutipan keempat terjadi di rumah rusli. Kutipan tersebut menggambarkan keadaan rumah rusli yang cukup rapi. Kutipan ini memberikan kita pengetahuaan bahwa beberapa alat yang sering digunakan oleh rusli. Kutipan ini menggambarkan rusli adalah seorang yang modern, berpikiran dinamis. Dari tata prabotan yang ditampilkan dalam latar tersebut, kita mengetahui bahwa rusli merupakan orang yang cukup rapid an bersih.

Pada kutipan kelima disampaikan bahwa rusli menggunakan latar alat yaiotu sapu tangan. Latar tersebut menunjukan bahwa rusli selai n sebagi seorang yang bersih juga rapi. Latar ini juga menggambarkan nkegelisahan dari rusli. Kegelisahan ini terjadi karena pertanyaan yang dilontarkan oleh hasan. Untuk menghilangkan kegelisahan, rusli berusaha menggunakan saputangannya sebagai media.

Kutipan keenam menggambarkan latar yang terjadi dirumah rusli. Dari ruang tengah rusli pergi ke dapur kemudian kembali lagi keruang tengah membawa dua cangkir the. Dari kutipan itu kita mengetahui bahwa latar alat yang digunakan adalah cangkir the. Dari latar itu kita bisa mengambil kesimpulan bahwa rusli biasa memberikan minuman the kepada tamu yang datang ke rumahnya.

Pada kutipan ketujuh, latar alat yang digunakan adalah rokok. Pada kutipan ini menggambarkan kegelisahan yang dialami oleh rusli. Kegelisahan itu diakibatkan oleh hasan. Dalam sebuah percakapan hasan mengajukan pertanyaan tentang keagamaan kepada rusli. Karena pertanyaan itulah rusli menjadi gelisah. Untuk menyembunyikan kegelisahan itu dan menghilangkan rasa jengkelnya, rusli menggunakan rokok sebagai9 sarana yang cukup efektif.

Kutipan kedelapan, terjadi di rumah kartini. Kutipan ini menggambarkan kemodernan kartini sebagai seorang perempuan modern. Latar alat yang digunakan dalam kutipan ini adalah piano. Kutipan ini menggambarkan kemahiran kartini dalam memainkan piano.

Kutipan kesembilan menggambarakan situasi kepanikan yang terjadi di rimah kartini. Peristiwa ini terjadi pada saat acara makan siang. Kepanikan ini disebabkan oleh hasan yang tiba-tiba mual dan muntah-muntah. Hal ini karena ia mengira bahwa makanan yang dimakan berasal dari restoran china. Kepanikan ini ditandai oleh kartini yang berlari-lari dari kamar tidur menuju dapur kemudian kembali lagi ke kamar tidur dengan membawa air hangat. Latar alat yang digunakan adalah alat yang digunakan untuk membawa air hangat.

Dengan adanya latar alat, kita dapat mengetahui peristiwa yang terjadi dan situasi pada saat terjadinya peristiwa. Latar alat ini memiliki peran yang cukup penting dalam sebuah karya sastra.

3.2.4 Alur (Plot)

Roman ATHEIS secara umum memiliki alur sorot balik (flashback). Hal ini terjadi karena pada bagian pertama disampaikan akhir dari cerita, kemudian pada bagian kedua sampai terakhir dilakukan pengenangan dari tokoh. Alur seperti ini bisa digambarkan sebagai berikut,

Dari grafik tersebut, kita dpat mengetahui bahwa roman ATHEIS beralur sorot balik atau flashback. Cerita tersebut dimulai dengan penyelesaian kemudian dilanjutkan dengan paparan, dari paparan kemudian dilanjutkan dengan rumitan. Kemudian dari rumitan menuju klimaks dan dilanjutkan dengan leraian.

Secara singkat ditinjau dari segi akhir cerita, dapat diceritakan plot atau jalan cerita dari ATHEIS sebagai berikut bahwa alur yang digunakan adalah alur terbuka. Hal ini kita ketahui setelah membaca roman tersebut, ceritanya diakhiri dengan klimaks, tanpa penyelesaian. Dalam hal ini penyelesaian diserahkan pada pembaca. Akhir dari roman ini kita sebagai pembaca dituntut untuk mereka-reka atau menduga apa yang terjadi setelah tokoh dari cerita tersebut meninggal. Kita dituntut untuk menganalisa sendiri apakah yang akan terjadi dengan kehidupan dari tokoh lain. Roman ini memberikan kepada kita kesempatan untuk mereka-reka atau menduga kelanjutannya, kita juga dapat memberikan gambaran tentang cerita tersebut sampai akhir. Jadi secara keseluruhan akhir dari cerita ini dapat ditentukan oleh pembaca.

Dari segi kuantitasnya roman ATHEIS beralur tunggal. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya sebuah plot utama. Plot yang dimaksud adalah tentang keragu-raguan yang dimiliki oleh Hasan kkarena pengaruh sahabat dan globalisasi. Dalam roman ini tersirat tentang perjalanan manusia dalam mempertahankan keteguhannya terhadap agama.

Roman ATHEIS ditinjau dari segi kualitas cerita, memiliki alur rapat. Hal ini kita temukan karena dalam cerita tersebut, alur yang telah ada tidak bisa disisipi oleh alur lain.

3.1 Sarana Sastra

Menurut Stanton bahwa yang dimaksud dengan sarana saatra adalah cara atau metode pengarang memiliki dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung makna. Dapat juga dikatakan bahwa sarana sastra adalah unsur-unsur pendukung dalam sebuah karya sastra. Unsur-unsur tersebut mencakup, (1) judul, (2) gaya bahasa, (3) ironi, (4) pusat pengisahan, (5) nada dan gaya, (6) suasana, (7) simbol, (8) klimaks, (9) asosiasi dan imajinasi, (10) humor, (11) konflik, dan (12) tanda-tanda bahasa lainnya.

3.1.1 Judul

Judul adalah sebuah kata, prase, atau nama dan label yang digunakan untuk menandai karya bertalian dengan masalah dan tema cerita. Dari pengamatan yang telah dilakukan, dalam Roman ATHEIS yang menjadi unsur dari sarana sastra adalah judulnya.

Dari judulnya yaitu ATHEIS, orang sudah dapat mengambil gambaran umum tentang isi dari cerita tersebut. ATHEIS berarti suatu sikap atau keadaan atau paham yang tidak percaya terhadap agama. Judul ini sudah menggambarkan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang. Dengan hanya melihat judul ini, maka kita sebagai pembaca sudah dapat menduga isi dalam cerita tersebut. Judul yang disampaikan oleh penulis memberikan suatu kesan atau pesan kepada para pembaca.

3.3.2 Konflik

Konflik adalah pertentangan dalam cerita rekaan antara dua kekuatan, pertentangan di dalam diri satu tokoh dan pertentangan antara dua tokoh. Dalam Roman ATHEIS terdapat beberapa pertentangan yang terjadi. Baik antara ayah dengan anak karena perbedaan prinsip, yaitu antara Hasan dengan ayahnya. Kemudian konflik lain yang terjadi adalah konflik antara suami istri, misalnya antara Hasan dengan Kartini yang terjadi akibat adanya perasaan cemburu dan saling ketidak percayaan.

Ah, aku tetap tidak percaya pada hubungan kakak beradik itu dengan tiada perasaan-perasaan lain yang mengikat kedua hati mereka. Maka henrankah, kalau dalam hatiku timbulah api cemburu terhadap Rusli. Saya kira saudara betul-betul adiknya. Tapi ternyata bukan. Berbahagaia juga rupanya Rusli dengan adiknya seperti saudara ini.

Mungkin karena saudara agak sinis, maka agaknya terasalah oleh Kartini bahwa perkataanku ini timbul dari dasar hati yang buru. (Atheis, hal 123)

Dari kutipan tersebut, kita mengetahui nahwa sedang terjadi konflik batihin yang dialami oleh salah seorang tokoh yaitu Hasan. Konflik ini timbul karena ketidak percayaan Hasan terhadap hubungan Kartini dan Rusli. Juga karena rasa cemburu yang dimiliki oleh Hasan.

Berikut juga akan diberikan sebuah kutipan yang menggambarkan konflik bathin. Hal ini terjadi setelah Hasan kehilangan ayahnya. Hati Hasan sangat sedih memikirkan sesuatu yang menjadi paham dari Anwar dan Rusli, bahwa Tuhan itu hanya bikinan manusia.

Ayah kini tak ada lagi.

Hasan menyapu air matanya. Menyeringsing kedalam sapu tangannya.

Tiba-tiba seperti halilintar menggores dilangit, mengkilatlah suatu pikiran yang terang dan tegasdalam hati Hasan,seakan-akan sinar ilham yang terang benderang menyiakan tabir gelap dalam jiwa yang bimbang. Terang, terang sekalia seakan-akan pikirannya.

Berpikirlah ia “ auah sudah tidak ada lagi. Tapi aku, ibu, dan fatimah masih ada, masih hidup. Kalau tuhan betul bikinan khayal manusia, seperti kata rusli dan anwar, maka tuhan pun akan habislah riwayatnya, kalau mahluk yang dinamai manusia itu sekali kelak sudah tidak ada lagi dari dunia ini. Tidakkah manusia itu pun seperti mehluk-mahluk lainnya pula, misalnya saja binatang-binatang dari jaman prasejarah, seperti mommouth, minotaurus dan lain-lain, mungkin akan lampus juga dari dunia ini? Apalagi kalau kita melihat gelagatnya sekarang, yang tiada hentinya menunjukan umat manusia yang saling membunuh, saling basmi terus menerus. Dan tidakkah ilmu pengetahuan menunjukan, bahwa sekarang sudah banyak binatang yang sudah lampus, yang sudah tidak ada lagi jenis atau keturunannya pada jaman sekarang? Dan bukankah manusia pun, menurut ilmu pengetahuanadalah termasuk suatu jenis binatang? Jenis binatang menyusui? Dan andaikata, jenim manusia itu pada suatu saat sudah lampus sama sekali dari dunia seperti momouth dan minotaurus, apakah dengan hal itu berartilah pula, bahwa tuhan pun akan turut tidak ada lagi bersama-sama dengan manusia lainnya. Tidakkah malah lebih masuk akal, bahwa Tuhan itu akan terus ada? Terus ada sebagai pencipta alam semesta yang tidak turut pula lampus dengan lampusnya jenis manusia, seperti halnya aku, ibu, dan Fatimah yang masih terus ada dan hidupbiarpun ayah sudah meninggal. Jadi dengan sendirinya, ucapan yang mengatakan bahwa Tuhan itu adalah bikinan manusia, tidak bisa aku terima. Tidak boleh aku terima! Ya, kenapa hal ini sampai terpikirkan olehku dulu?!” (Atheis, hal 219)

Kutipan di atas menggambarkan kegundahan dan penyesalan yang dilakukan oleh hasan. Ia menyadari semua kekeliruan yang telah dilakukannya terhadap orang tuanya. Terutama ayahnya yang sangat mencintanya. Karena pengaruh pergaulan, hasan berani menentang kedua orang tuanya. Penyesalan yang dilakukan oleh hasan sudah terlambat. Kepedihan ayahnya yang merasa kecewa terhadap hasan harus dibawa sampai meninggal dunia.

3.3.3 Gaya (style)

Gaya adalah cara pengarang menggunakan bahasa dalam karyanya. Ide dan perasaan sering tampak nyata seperti fakta fisikal meskipun tidak tampak dan tidak dapat diraba. Dalam karya sastra salah satu cara untuk membuatnya seperti nyata ialah dengan menggunakan simbol sehingga ide dan perasaan itu dapat mudah diterima dalam angan-angan pembacanya. Mnurut Stanton, simbolisme dalam karya fiksi memiliki manfaat tergantung bagaimana penggunaannya. Pengertian simbolisme sastra mungkin membuat pembaca lebih bingung daripada penertian sarana cerita lainnya. Namun, simbolisme tidaklah aneh dan sulit dengan sendirinya. Alasan itu didasarkan bahwa hampir semua simbol dalam sastra tidak lebih merupakan fakta yang tampaknya masuk akal. Alasan lainnya adalah bahwa sebagian besar simbol sastra mengungkapkan arti untuk mana simbol konvensional tidak muncul. Oleh karena itu, masalah kita sebagai pembaca ada dua hal, yaitu untuk mengetahui pernyataan-pernyataan itu sebagai simbol atau bukan, dan mencari makna yang diungkapkan

Roman ini banyak menggunakan gaya bahasa perbandingan. Hal ini terlihat dari beberapa kalimat yang digunakan yaitu membandingkan sesuatu dengan orang. Misalnya saja kita temui pada kalimat “ semua kelihatannya sangat lesu, serupa dengan onggokan daging juga yang tak berdaya apa-apa”. Banyak lagi kalimat yang menggunakan majas perbandingan. Sehingga roman ini sangat menarik dan indah untuk dibaca.

3.3.4 Pusat Pengisahan

Dalam roman ATHEIS, sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang yang digunakan adalah metode orang pertama sertaan. Hal ini kita temukan dalam roman ATHEIS, yaitu penggambaran tokoh menggunakan kata aku. Cerita ini sungguh membingungkan bila kita tidak membacanya dengan sungguh-sungguh. Cerita ini megisahkan tentang Hasan. Kisahnya ini dikarang oleh Hasan sendiri dan disampaikan kepada penulis. Jadi dengan melihat kenyataan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pengarang menyampaikan cerita dari orang lain. Perhatikan petikan berikut,

Malam itu aku merasa kecewa, karena sudah masak kuidam-idamkan akan berkunjung ke rumah Rusli sore itu, tapi Rusli pergi. Dan kenapa mereka itu selalu bersama-sama saja. Seolah-olah merekasudah menjadi laki bini. Kecewa hatiku berteman dengan curiga. Pernah kudengar teman-teman sekantorku bercerita tentang apa yang dinamakan mereka “cinta merdeka’yang katanya banyak dilakukan oleh orang-orang barat, artinya laki-laki dan perempuan bisa hidup bersama seperti suami istri, tetapi tidak kawin. Dan katanya antara orang-orang indonesia pun kebiasaan itu sudah mulai menjangkit. Mungkin Rusli dan Kartini pun.

Menggigil aku. Hatiku makin sebal. Hidup demikian berarti bagiku berzinah. Lain tidak.jam menunjukan pukul sebelas. Aku masih berbaring-baring di atas kursi malas di tengah rumah. Malam sudah sunyi benar sehingga kadang-kadang kudengar nafasku sendiri. Radio disebelah sudah bungkam dari jam delapan tadi. Rupanya tetangga yang empunya itu sakit, sebab biasanya ia pasang radionya itu sampai lagu penutup terdengar. Bibi sebagai biasa sudah masuk kamar dari jam sepuluh, sebab esoknya ia harus sudah bangun pagi-pagi benar, membikin kue-kue yang akan dijajakan pak Ingi pada siangnya.

(Atheis, hal 58)

Dari kutipan itulah, kita dapat mengambil kesimpulan tentang pusat pengsahan pada roman tersebut. Kita ketahui bahwa dalam kutipan tersebut, pengarang menyebut dirinya sebagai aku.

3.3.5 Nada dan Gaya

Nada merupakan sikap emosional pengarang yang dihadirkan dalam karya sastra. Hal ini mungkin berupa sikap romantis, ironis, misterius, gembira, tidak sabar, keras, atau yang lainnya. Ketika pengarang menghayati perasaan tokoh, dan ketika perasaan itu tercermin dalam lingkungannya, maka nada it identik dengan atmosfir. Atau, dengan kata lain, nada adalah gaya penuturan pengarang dalam suatu karyanya. Misalnya, nada cerita dibangun sebagaian dengan fakta cerita, seperti pembunuhan dengan kampak agaknya memiliki nada yang mengerikan.

Nada penyampain yang dilukiskan oleh pengarang adalah suatu ironis dan romantis. Hal yang mendasari pandanga tersebut dapat kita temukan kjarena roman Atheis ini memiliki beberapa bagian yang berisi kisah percintaan atau perasaan suka antara seorang pria yaitu Hasan dengan Kartini serta perjalanan cinta mereka. Sedangkan nada ironis kita lihat dari adanya kematian yang tragis yang dialami oleh Hasan, serta rasa dendam yang tak terbalkaskan. Selain itu tokoh Hasan juga menyimpan penyesalan yang teramat sangat karena tidak memperole maaf dari ayahnya. Hal ini membuat cerita ini cukup ironis tetapi penuh dengan romantisme.

3.3.6 Aliran

Aliran dalam suatu karya sast4ra biasanya berkembang dalam satuan waktu tertentu. Dalm setiap periode sastra, umumnya selalu diikuti oleh suatu aliran yang menjadi mode pada waktu itu. Aliran ini dapat dikatakan sebagai suatu paham atau pandangan yang dapat digunakan sebagai metode kerja dalam sastra dan seni pada umumnya. Ada beberapa aliran sastra yang dikenal dan pernah menjadi ciri khas, panutan dan mode pengarang Indonesia diantaranya adalah aliran romantismr, romantis-idealisme, romantis-realisme, ekspresionisme, impresionisme, naturalisme, surealisme, eksistensialisme, strukturalisme, meteralisme, dan lain-lain. Aliran-aliran ini sering memberikan kerancuan makna karena medan kajiannya berbeda, tetapi pada hakikatnya dasar aliran tersebut sama.

Dalam roman ATHEIS, yang dijadikan sebagai aliran dari karya ini adalah aliran romantis-realisme. Hal ini karena roman ini terbit pada masa angkatan 45 yaitu sekitar tahun 1949. Jadi berdasarkan tahun inilah kita membuat kesimpulan tersebut.

3.3.7 Klimaks

klimaks adalah majas penegasan dengan urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkat dari gagasan sebelumnya dan berakhir pada gagasan yang paling penting atau menarik.

Roman ATHEIS memiliki klimaks yang terus meningkat pada setiap bagiannya. Dimulai dari bagian pada masa remaja sampai pada keadaan dewasa. Kemudian pada masa ini banyak terjadi pergolakan dalam diri tokoh Hasan. Klimaks dari roman ini terus meningkat pada setiap bagiaanya, sampai ada penyelesaian. Ada beberapa kalimat yang bisa menunjukan bahwa terjadinya klimaks antara lain.

Orang tua rukmini tidak mau anaknya dikawinkan dengan seorang menak. Jangan nak, engkau jangan berangan-angan hendak kawin dengan seorang keturunan raden.sebaliknya orangtuaku pun, bercita-cita supaya aku mengambil isti dari kalangan raden pula. (Atheis, hal 49)

Diputar-putanya rokok diantara bibirnya. Ditariknya hipan dua kali. Asap berkepul-kepul. Meludah-ludah kecil, membuang potongan-potongan tembakau yang melekat pada bibirnya.

Sikap rusli yang tenang dan senyuman yang samara-samar itu malah membikin aku menjadi gelisah dan jengkel. Maka kataku, bagi saya, orang-orang yang tidak percaya tuhan dan agama tidak beeanya dengan binatang. Tersenyum lagi dia. Aku agak ragu-ragu, tapi melanjutkannya, bagi saya manusia adalah mahluk yang percaya kepada tuhan, karena itulah, maka manusia yang tidak percaya kepada tuhan berarti sama dengan hewan. (Atheis, hal 49)

“Tidak” seru anwar tiba-tiba. “ Tidak! Teknik itu Cuma alat.”

Kawan-kawan pada kaget mendengar suara itu. Dua lusinmata memandang wajah monhgol yang bulat kekuning-kuningan itu. Tapi sejurus kemudian kedu lusin mata itu sudah berpindah lagii arahnya. Sekarang mengarah ke wajah pelaut yang kehitam-hitaman terbakar dan setengah bopeng itu. Wajah bung parta.

Dengan tangkas sambil tertawa bung parta menjawab,”betul kata saudara itu” Cuma alat, memang tuhan pun hanya alat bagi orang-orang yang percaya kepadanya. Alat yang katanya memberi keselamatan dan kesempurnaan kepada hidup manusia. (Atheis, hal 116-117)

Kalau begitu,baiklah kita berpisah jalan saja. Kau sudah mendapat jalan tersendiri, ayah dan ibumu pun sudah ada jalan sendiri. Jadi baiklah kita bernapsi-napsi saja menempuh jalan masing-masing. Memang ayah dan ibu pun hanya berbuat sekadar sebagai orang tuasaja, yang menjalankan sesuatu yang dianggapnya memang kewajibannya terhadap anaknya, ialah mendoakan semoga engkau di jalan hiduop ini bertemu dengan keselamatan lahir bathin, dunia akhirat. Hanya sekianlah yang ayah dan ibu selalu pohonkan dari tuhan kami. Agak menusuk rasanya perkataan tuhan kami itu bagiku. Maka dijamahlah kepalaku oleh ayah dengan tangannya yang kanan sambil berbisik-bisik membaca ayat dari alquran. Suaranya terputus-putus, hgemetar. Ibu menangis, sedang aku tunduk duduk di atas kursi dengan kedua belah tanganku berlipat di atas pangkuannku. (Atheis, hal 157-158)

Sejurus lamanya, kartini membiarkan saja aku menggedor-gedor demikian. Tapi rupanya oleh karena makin lama, mkin terdengar bahwa aku makin marah, dan makin keras pula berkutuk-kutuk, sehingga para tetangga pada menonjol dari rumahnya dengan wajah yang penuh kecemasan, maka pada akhirnya pintu dibuka juga.

Baru saja pintu setengah dibuka, aku sudah menubruk ke dalam seperti seekor harimau yang sudah lapar mau menyergap mangsanya.

Tar ! tar ! kutempeleng kartini.

Aduh, pekiknya, sambil menuup pipinya yang kanan dengan tangannya. Kujambak rambutnya ! kurentakan dia dengan sekuat tenaga, sehingga dia terjatuh tersungkur ke lantai. Kepalanya berdentar kepada daun pentu. Menjeit-jerit minta ampun! (Atheis, hal 173)

Pada kutipan pertama di atas kita mengetahui bahwa klimaks yang terjadi adalah pada saat hasan masih remaja dan sedang menjalin cinta dengan rukmini. Klimaks ini terjadi karrena adanya pertentangan dari orang tua masing-masing baik hasan maupun rukmini tentang hubungan mereka berdua.

Setelah kutipan pertama, pada kutipan kedua menyatakan klimaks yang terjadi antara Hasan dengan Rusli. Klimaks ini terjadi ketika mereka senag berdebat mengenai kepercayaan dan ketidak percayaan terhadap tuhan. Kutipan ini menggambarkan bahwa antara hasan dan rusli sedang terjadi permasalahan.

Dari keseluruhan kutipan yang disampaikan di atas, secara keseluruhan kita dapat mengambil kesimpulan bahwa pada setiap bagian, selalu terjadi peningkatam konflik. Di mulai ketika Hasan masih timggal di desa, sampai Hasan mulai bekerja di Bandung dan kembali lagi ke desa, kemudian setelah menikah dengan Kartini. Setiap kejadian terus menunjukan peningkatan.

BAB IV

PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

Sebuah karya sastra sebagai suatu rekaan pada hakikatnya adalah suatu struktur. Struktur tersebut dibina oleh unsur-unsur organik. Menurut Robert Stanton unsur-unsur yang mendukung sebuah karya sastra, yakni (1) Masalah dan Tema, Masalah merupakan suatu hal atau tentang hidup dan kehidupan yang diangkat dalam cerita sebuah karya fiksi. Maksudnya adalah dalam kenyataan kehidupan terdapat berbagai permasalahan yang sering dihadapi manusia. Sedangkan tema secara sederhana dapat diartikan inti cerita dalam sebuah cipta sastra atau suatu gagasan sentral yang menjadi dasar penyusunan karangan dan sekaligus merupakan sesuatu yang hendak diperjuangkan serta menjadi sasaran dari karangannya. Dalam Roman ATHEIS yang dijadikan sebagai tema adalah cerita tentang bagaimana kehidupan agama seseorang yang pengangkapan agamanya selalu setengah-setengah, baik karena pendidikan agamanya yang lemah maupun pengaruh kehidupan modern yang menjadi lingkungan sebuah kota besar.

(2)Fakta Cerita, meliputi tokoh dan penokohan, plot (alur), latar (setting), suspens, dan kredibilitas. (3) Sarana sastra, merupakan metode atau cara memilih dan mengatur butir-butir cerita sehingga tercipta bentuk-bentuk karya sastra yang sanggup mendukung makna. Sehingga tujuan penggunaan sarana sastra ini adalah agar pembaca mampu melihat fakta-fakta cerita melalui sudut pandang pengarang dan melihat arti fakta cerita sehingga dapat bertukar pendapat tentang pengalaman yang terlukiskan. Sarana Sastra meliputi judul, konflik, pusat pengisahan, klimaks, ironi, simbol, humor, suasana, asosiasi dan imajinasi, aliran, nada dan gaya, gaya dan tanda-tndakonvensi lainnya.

Roman ATHEIS sebagai salah satu hasil karya sastra memiliki ketiga unsur pendukung tersebut. Unsur-unsur tersebut yang memberikan sebuah jiwa untuk roman tersebut sehingga terasa lebih hidup. Dengan menggunakan teori dari Robert Stanton, kita dapat mmbedah unsure-unsur yang terdapat dalam Roman ATHEIS. Dengan mengetahui unsure-unsur tersebut kita akan lebih mudah untuk memahami dan mempelajari secara keseluruhan Roman tersebut.

4.2 SARAN

Dalam menganalisis Roman AHTEIS tentunya kita memerlukan pemahaman tehadap karya sastra itu sendiri. Dengan menggunakan beberapa teori tertentu kita mampu untuk menganalisis suatu karya sastra dengan mencermati dan merasakan secara mendalamunsur-unsur yang terdapat dalam karya sastra tersebut. Setiap sastra tentunya memiliki unsur seni (unsur estetik maupun ekstra estetik) sehingga dari unsur seni inilah kita harus mampu untuk menyelami makna yang terkandung dalam karya itu sendiri.

Menganalisis sebuah karya sastra khususnya Roman, kita tidak cukup hanya menggunakan satu teori saja. Ada baiknya kita menggunakan beberapa buah teori yang masih relevan sebagai bahan perbandingan.

DAFTAR PUSTAKA

Gunatama, Gede. 2006. Buku Ajar Puisi (teori, apresiasi, dan pemahaman) . Singaraja : UNDIKSHA Singaraja

Gunatama, Gede. 2004. Sastra dan Ilmu Sastra. Singaraja : IKIP Singaraja

Mihardja. K, Achdiat. 1994. ATHEIS. Jakarta : Balai Pustaka

Natia. 1985. Ikhtisar Teori Sastra Indonesia. Surabaya: Sinar Wijaya

Sutresna, Ida Bagus. 2006. Prosa Fiksi. Singaraja : Undiksha Singaraja

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators