Rabu, 25 Mei 2011

KEGIATAN PENYUNTINGAN


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Sebagai makhluk sosial, manusia memerlukan komunikasi untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Boleh dikatakan, tiada hari dalam hidup kita yang terlewat tanpa komunikasi. Dalam berkomunikasi, terjadi penyaluran informasi dari satu pihak kepada pihak lain melalui sarana tertentu. Sarana ini tentu saja beragam bentuknya, mulai dari yang paling sederhana seperti bahasa tubuh, sampai yang paling canggih seperti internet. Salah satu sarana komunikasi yang sudah akrab dengan kehidupan kita adalah media massa, baik media cetak maupun elektronik.
Secara umum, media massa menyampaikan informasi yang ditujukan kepada masyarakat luas. Karena ditujukan kepada masyarakat luas, maka informasi yang disampaikan haruslah informasi yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, atau yang menarik perhatian mereka
Agar informasi dapat sampai ke sasaran (khalayak masyarakat) sesuai yang diharapkan, maka media massa harus mengolah informasi ini melalui proses kerja jurnalistik. Dan informasi yang diolah oleh media massa melalui proses kerja jurnalistik ini merupakan apa yang selama ini kita kenal sebagai berita. Secara umum, kita dapat menyebutkan bahwa media massa merupakan sarana untuk mengolah peristiwa menjadi berita melalui proses kerja jurnalistik.
Dengan demikian, jelaslah bahwa peristiwa memiliki perbedaan yang sangat konseptual dengan berita. Peristiwa merupakan kejadian faktual yang sangat objektif, sementara berita merupakan peristiwa yang telah diolah melalui bahasa-bahasa tertentu, dan disampaikan oleh pihak tertentu kepada pihak-pihak lain yang memerlukan atau siap untuk menerimanya.
Agar informasi  yang ingin disampaikan kepada masyarakat dapat diterima dengan baik. Maka salah satu proses kerja jurnalistik adalah bagian peyuntingan. Bagian ini bertugas khusus dalam hal yang berkaitan langsung dengan naskah yang akan diterbitkan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dengan cermat dan seksama oleh penyunting adalah masalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung.

1.2 RUMUSAN MASALAH
      Dari latar belakang yang disamapaikan pada latar belakang di atas, ada beberapa masalah yang dihadapi.
  1. Bagaimana latar belakang penyuntingan?
  2. Apa hakikat penyuntingan?
  3. Apa tujuan penyuntingan?
1.3 TUJUAN PENULISAN
      Dari latar belakang dan rumusan masalah yang disampaikan di atas, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai dengan penulisan makalah ini.
  1. Mengetahui latar belakang penyuntingan.
  2. Mengetahui secara jelas hakikat penyuntingan.
  3. Mengetahui tujuan dari kegiatan penyuntingan.










BAB II
PEMBAHASAN

2.1 LATAR BELAKANG PENYUNTINGAN
Menjadi seorang penyunting (editor) ternyata bukanlah tugas yang biasa saja. Jika ingin menyandang jabatan itu, seseorang harus memikirkan bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk melengkapi dirinya dalam dunia yang luas, yaitu dunia literatur. Jadi, seorang penyunting tidak hanya bermodal ejaan yang baik dan benar saja, akan tetapi harus memiliki "beban" sebagai seorang penyunting yang baik dan benar pula.
"Buku Pintar Penyuntingan Naskah" yang ditulis oleh Pamusuk Eneste benar-benar dapat dijadikan salah satu referensi bagi para penyunting, khususnya yang baru saja menggeluti bidang ini. Isinya tidak hanya hal-hal teknis seputar penyuntingan, akan tetapi beberapa bab menjelaskan mengenai tugas-tugas, syarat, dan hal-hal yang harus diperhatikan seorang editor. Bagian-bagian tersebut dapat membangkitkan semangat untuk lebih mengembangkan diri atau untuk menguji apakah saat ini seseorang telah menjadi editor yang baik dan benar.
Dalam menjaga kemantapan atau bahkan peningkatan mutu berkala, fungsi penyaring harus dijalankan ketat walaupun dalam pelaksanaanya dapat dilakukan baik secara pasif maupun aktif. Begitu sautu berkala ilmiah terbit, secara tidak langsung telah tercipta saringan terhadap karangan yang akan dimasukkan. Dari nomor perdata suatu ilmiah berkala sudah dapat terbaca ruang lingkup bidang            , kedalaman spesialisasi, macam bahasa  sebaran dan cakupan.
Geografi, keteknisan, serta corak pembaca yang menjadi sasarannya. Petunjuk penulis merupakan saringan kedua sebab hanya karangan yang sesuai dengan petunjuk tadi diterima  untuk diterbitkan. Saringan ketiga dilakukan secara aktif oleh penyaring dengan menelaah nilai dan kadar ilmiah dwn mgengevakuasi makna sumbangannya untuk memajuk,an ilmu dan teknologi. Hanya karangan ilmiah yang lolos bentuk saringan ini yang diproses lebih lanjut untuk di terbitkan.
Untuk mencapai semua sasaran prsyaratan yang dibakukan ini menjadi hak para penyunting untuk memperbaiki , merevisi, mgengatur kembali isi dan menyelaraskan atau terkadang mengubah gaya karya ilmiah yang ditujukan dseseorang untyuk diterbitkan dalam berkala  yang diasuhnya.
Perlu ditekankan sekali lagi bahwa tugas penyunting karya terbatas pada pengolahan naskah menjadi suatu bahan yang siap       , dan menawasi pelaksaan segi teknis sampai naskah tadi     . penyunting bukan penerbit, jadi mereka tidak bertanggung jawab atas masalahkeuangan, penyebaluasan serta pengelolaan         suatu penerbitan. Para penyunting bertanggung jawab atas isi dan bukan atas produksi  bahan yang diterbitkan.
Untuk memapankan peran danm kedudukan penyunting sebagai agen yang ikut berperan dalam memajukkan ilmu dan teknologi. Sebagai sepak terjang kegiatan penyunting haruslah didasarkan pada            seperangkat kode etik cara bersikap dan bekerja. Kesadaran akan fungsi terhormat yang harus diisinya diharapkan menumbuhkan tebinanya korps penyunting dan mitra bestari yang terandalkan. Berikut ini adalah rangkuman berbagai sikap dan cara kerja yang sangat doisarankan dipatuhi dalam penyunting dalam menurunkan tugas dan fungsinya.
Buku pintar ini juga memberikan tuntunan kepada para penyunting tentang pentingnya setiap proses penyuntingan. Seperti, proses Pra penyuntingan naskah yang meliputi pengecekan kelengkapan naskah, ragam naskah, daftar isi, bagian-bagian bab, ilustrasi/tabel/gambar, catatan kaki, informasi mengenai penulis, dan membaca naskah secara keseluruhan.
Dalam proses penyuntingan itu sendiri, yang perlu diperhatikan dengan cermat dan seksama oleh penyunting adalah masalah ejaan, tatabahasa, kebenaran fakta, legalitas, konsistensi, gaya penulis, konvensi penyuntingan naskah, dan gaya penerbit/gaya selingkung.
Tidak kalah pentingnya juga proses pasca penyuntingan naskah. Dalam proses ini setiap editor harus memeriksan kembali kelengkapan naskah, nama penulis, kesesuai daftar isi dan isi naskah, tabel/ilustrasi/gambar, prakata/kata pengantar, sistematikan tiap bab, catatan kaki, daftar pustaka, daftar kata/istilah, lampiran, indkes, biografi singkat, sinopsis, nomor halaman, sampai siap diserahkan kepada penulis atau penerbit.
Ternyata tidak begitu sederhana juga tugas seorang penyunting naskah itu, bukan? Semua membutuhkan kemauan dan kerja keras untuk dapat menjdi penyunting yang baik dan benar. Semua kerja keras itu bahkan tidak boleh berhenti pada satu puncak, harus terus ditingkatkan hari demi hari.


2.2  HAKIKAT PENYUNTINGAN
Penyuntingan berasal dari kata dasar sunting melahirkan bentuk turunan menyunting (kata kerja), penyunting (kata benda), dan peyuntingan (kata benda).
Kata menyunting bermakna (1) mempersiapkan naskah siap cetak atau siap terbit dengan memperhatikan segi istematika penyajiannya, isi, dan bahasa (menyangkut ejaan, diksi, dan struktur kalimat); mengedit; (2) merencanakan dan mengarahkan penerbitan (surat kabar, majalah); (3) menyusun dan merakit (film, pita rekaman) dengan cara memotong-motong dan memasang kembali (KBBI, 2001 : 1106)
Orang yang melakukan pekerjaan menyunting disebut penyunting, yaitu orang yang bertugas menyiapkan naskah (KBBI, 2001:1106). Selanjutnya kata penyunting bermakna proses, cara, perbuatan sunting-menyunting; segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan menyunting; pengeditan. Dengan demikian, penyuntingan naskah adalah pross, cara, perbuatan menyunting naskah
Berdasarkan perkembangan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, istilah penyuntingan disepadankan dengan kata inggris “ editor “ atau “ redaktur . Kata yang pertama diturunkan dari bahasa latin “ editor, edi “ yang berarti menghasilkan atau mengeluarkan ke depan umum. Adapun kata yang ke dua juga dijabarkan dari perkataan latin “ redigore “ yang bermakna membawa kembali lagi. Kedua perkataan inggris tadi kemudian berkembang menjadi berarti, menyiapkan, menyeleksi dan dan menyesuaikan naskah orang lain untuk penerbitan, dengan catatan bahwa istilah editor lebih sering dipergunakan orang. Dengan demikian istilah penyuntingan yang kini di populerkan  di Indonesia merupakan istilah yang di selangkan dengan istilah redaksi. Istilah yang terakhir ini sebelumnya lebih sering di pakai orang berdasarkan hasil serapannya dari bahasa belanda “ Redactic”
Konotasi yang berkembang di Indonesia lebih mengaitkan istilah redaksi pada surat kabar dan majalah berkala. Istilah ini sulit diterima untuk kegiatan seperti mempersiapkan buku buat penerbitan, atau pemeriksaan tugas tesis mahasiswa sebelum diuji. Perkataan pnyuntingan yang bari digali dari kosakata pribumi itu dianggap lebih neutral untuk memenuhi berbagai keperluan yang maksudnya semakin luas. Oleh karena itu, penyuntingan dapat didefenisikan sebagai orang yang mengatur, memperbaiki, merevisi, mengubah isi dan gaya naskah orang lain, serta menyesuaikan dengan suatu pola yang dilakukan untuk kemudian membawanya ke depan umum dalam bentuk terbitan.
Pekerjaan penyuntingan karya ilmiah untuk diterbitkan bukanlah pekerjaan yang ringan sehingga tidak dapat dijadikan kegiatan sampingan. Namu , sudah bukan rahasia lagi bahwa penyuntingan berkala tidak pula pekerjaan berat. Pada pihak lain penyuntingan menuntut banyak dari seseorang, sebab disamping itu       secara sempurna menguasai bidang. Umumya ia harus mempunyai kesempurnaan bahasa yang tinggi. Selanjutnya ia pun perlu memahami gaya penyuntingan dan proses penerbitan ataupun redaksi penernbitan karya termaksud. Oleh karena itu, untuk dapat memenuhi fungsinya dengan baik seorang penyunting haruslah  mempunyai modal waktu, kemauan, kemampuan, dsiplin kerja serta pemahan teori.
Karena pentingnya fungsi penyunting sebagai penghubung, haruslah tersedia saluran akrab dan terbuka diantara penulis-penyunting-pembaca. Semuanya harus satu nada, satu irama, dan satu gelombang. Keselarasan tersebut akan sangat menentukan keteraturan isi karya yang disusun oleh penulis, kemudian diolah penyunting dan dikeluarkan penerbit serta akhirnya di telaah pembaca. Pengaturan dan penyelarasan semua parameter tadi berada di tangan penyunting yang kemudian menghasilkan berbagai kategori terbitan berkala.
Menjadi hak penyunting untuk menggariskan dalam menentukan tingkat keteknisan berkala yang diasuhnya. Begitu pula para penyuntinglah yang memutuskan bentuk penampilan majalah, besar ukuran kertas, tata letak dan perwajahan, serta tebal atau jumlah halaman per nomor atau per jilid. Dalam mengeluarkan petunjuk pada calon penyumbang naskah, para penyunting majalah bermaksud telah memformulasikan gaya selingkung yang mutlak harus diisi demi kekosistenannya. Tetapi,  begitu pola ditetapkan, menjadi kewajiban penyunting pula untuk menjaga kemantapan semua yang telah digariskan tadi.
Penyuntingan bermaksud mengenal pasti masalah yang terdapat dalam taipskrip dan menyelesaikannya. Penyuntingan melibatkan tugas-tugas menulis semula, menyusun semula, melengkapkan, membaiki dan menyelaraskan taipskrip bagi mengawal dan meningkatkan mutunya untuk tujuan penerbitan.
Untuk bisa menjadi seorang editor atau penyunting yang baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh penyunting. Syarat-syarat tersebut sebagai berikut.
  1. Editor hendaklah mempunyai kelayakan dan pengetahuan dalam bidang yang dinilai.
  2. Mempunyai waktu yang cukup untuk menilai taipskrip dalam tempoh yang ditentukan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka.
  3. Bertanggungjawab terhadap laporan penilaiannya.

2.3 TUJUAN PENYUNTINGAN
Tujuan Penyuntingan yang dilakukan oleh para penyunting adalah sebagai berikut.
   1. Untuk menjadikan taipskrip sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
   2. Untuk memastikan isi dan fakta taipskrip berkenaan disampaikan dengan jelas, tepat, dan tidak bercanggah atau menyalahi agama, undang-undang, etika dan norma masyarakat.
   3. Untuk memastikan pengaliran atau penyebaran idea daripada penulis kepada pembaca dapat disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
   4. Untuk menjadikan persembahan e-buku yang akan diterbitkan itu dapat menggambarkan nilai dan identiti karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
   5. Menonjolkan identiti penerbit dengan memastikan e-buku itu menepati gaya penerbitan penerbit.
Dalam penyuntingan, kita mengenal dua tahap penyuntingan, yaitu penyuntingan substansif dan penyuntingan kopi. Berdasarkan tahap-tahap penyuntingan yang ada, maka ada beberapa tujuan lain dari penyuntingan.
1.      Penyuntingan Substantif
Tujuan penyuntingan subtantif dilakukan adalah untuk memastikan hasrat atau idea penulis dapat disampaikan setepat, sepadat, dan sejelas yang mungkin. Semasa membuat penyuntingan subtantif, editor akan membaca taipskrip sepintas lalu dengan memberikan tumpuan kepada kandungan, pendekatan secara menyeluruh, bahasa, susunan atau konsep taipskrip berkenaan.
Berdasarkan penelitian tersebut, editor akan membuat teguran dan cadangan kepada penulis untuk sama ada melengkapkan taipskrip, menulis semula, menyusun semula, menggugurkan atau memotong bahagian teks atau ilustrasi yang tidak perlu, dan membuat tambahan.
Berikut ialah perkara yang perlu diteliti semasa penyuntingan substantif:
    * Tajuk tepat dan jelas
    * Pembahagian bab dan tajuk kecil jelas
    * Adanya kesinambungan antara bahagian, bab dan paragraf.
    * Keseimbangan antara setiap bab dan paragraf.
    * Taipskrip tidak bercanggah dengan undang-undang, moral dan agama.
    * Penguasaan bahasa.
    * Keselarasan istilah dan ejaan.
    * Bahan awalan, teks dan akhir hendaklah lengkap mengikut halaman
      kandungan.
    * Memastikan fakta tepat, mencukupi dan fakta yang tidak relevan tidak dimasukkan.
    * Petikan bahan daripada karya lain telah mendapat keizinan.

   2. Penyuntingan Kopi
Tujuan penyuntingan kopi adalah untuk menghapuskan semua halangan yang wujud antara pembaca dengan apa yang hendak disampaikan oleh penulis. Penyuntingan kopi memerlukan perhatian yang teliti terhadap setiap butiran di dalam taipskrip.
Editor perlu berpengetahuan tentang apa yang patut disunting dan gaya yang patut diikuti di samping mempunyai kebolehan untuk membuat keputusan dengan cepat, lojik, dan yang boleh dipertahankan. Semasa membuat suntingan kopi, editor akan membaca taipskrip berkenaan dengan teliti, iaitu membaca perkataan demi perkataan, ayat demi ayat, baris demi baris dan kadang-kadang melihat huruf demi huruf. Kebanyakan daripada masa penyuntingan itu, editor akan berurusan dengan hal penyusunan, bahasa dan kebolehbacaan taipskrip itu.
Tahapan  dalam penyuntingan kopi:
  • Membuat penyuntingan baris demi baris.
  • Memberi tumpuan khusus kepada fakta dan bahasa.
  • Memastikan kapsyen bagi ilustrasi ringkas, tepat, padat dan lengkap.
  • Memastikan keselarasan ejaan, istilah dan gaya bahasa.
  • Memastikan ketepatan dan keselarasan ilustrasi dan bahan lain dalam teks tersebut.
  • Menandakan teks dengan kaedah tanda atau piawaian sebagai arahan teknikal mengatur huruf.
  • Memberi tumpuan kepada gaya penerbitan.
Berikut ialah hal-hal yang perlu diteliti semasa penyuntingan kopi:
a)      Fakta - Pastikan semua butiran dalam teks betul. Editor perlu menyemak dengan teliti untuk memastikan ketepatan. Kadang-kadang kesilapan fakta boleh berlaku semasa teks ditaip. Contohnya, papan lapis menjadi papan lapik dan tidak mahal harganya menjadi mahal harganya. Selain itu ada sesetengah pernyataaan yang tidak tepat dan berunsur negatif sehingga boleh membawa kepada tindakan undang-undang.
b)      Bahasa, bahasa yang dimaksud mencakup.
  • Diksi ialah pemilihan penggunaan kata-kata. Dalam hal ini editor kopi perlu memastikan:
i) kata-kata yang dipilih berkesan dari segi maksud dan
iii) kata-kata yang dipilih sesuai dengan laras bahasa yang digunakan.
Contohnya, laras bahasa sains, laras bahasa undang-undang dan lain-lain.
Semasa menyemak diksi, editor kopi mungkin perlu membuang atau menggantikan perkataan yang;
(i) tidak tepat
(ii) sukar difahami
(iii) tidak tersusun dengan baik
(iv) terlalu umum atau samar
(v) terlalu banyak
(vi) bentuknya tidak konsisten
(vii) tidak menarik dan tidak sesuai untuk pembaca
·  Perbendaharaan kata - Editor kopi perlu memastikan perbendaharaan kata tersebut sesuai dengan peringkat dan golongan pembaca sasarannya.
  • Tatabahasa - Aspek-aspek tatabahasa yang digunakan dalam teks seperti:


(i) kata terbitan
(ii) kata sendi
(iii) kata ganti singkat
(iv) partikel
(v) unsur imbuhan asing
(vi) rangkai kata setara
(vii) hukum DM
(viii) kata ulang
(ix) kata majmuk


Editor kopi hanya perlu membaiki kesalahan dari segi tatabahasa tanpa mengubah gaya asas atau idea yang hendak disampaikan oleh penulis.

  • Pembinaan Ayat dan Pemerengganan Dalam aspek ini editor kopi perlu melihat wujudnya:
(i)   Kepelbagaian dalam struktur dan panjang ayat sesuatu penulisan itu perlu mempunyai binaan ayat aktif dan pasif.
(ii) Ayat-ayat yang berkesan, iaitu ayat-ayat yang tidak terlalu panjang, munasabah mengikut urutan idea atau penekanan dalam ayat.
(iii)       Pembentukan perenggan yang baik dan sesuai mengikut ideanya. Sebaik-baiknya setiap perenggan membicarakan satu idea sahaja dan setiap idea hendaklah dihuraikan dengan ayat-ayat gramatis, tepat dan berkesan. Panjang pendek sesuatu perenggan bergantung pada sepanjang mana sesuatu idea dapat dihuraikan dengan sempurna. Selain itu pastikan tidak terdapat ayat tergantung atau tidak lengkap, dan ayat-ayat yang ditulis dalam bahasa yang berbelit-belit. Ayat tersebut haruslah diperbaiki dan dipermudahkan, sekiranya perlu ditulis semula.
·       Ejaan - Pastikan perkataan dieja dengan betul. Kesalahan ejaan kadangkala boleh menyebabkan kesalahan fakta. Contohnya, perkataan yang patut dieja sebagai lancang menjadi lancung.
·       Istilah - Editor kopi perlu mengenal pasti istilah yang tidak tepat, tidak kemas kini atau tidak selaras. Dalam hal ini, editor kopi perlu membaiki, mengemas kini dan menyelaraskan penggunaannya.
·       Gaya, Editor kopi perlu mengambil perhatian terhadap gaya persembahan supaya menepati dan selaras penggunaannya. Berikut perkara yang perlu diberi perhatian:
i) Tanda baca
ii) Singkatan, akronim dan simbol
iii) Huruf besar dan huruf condong
iv) Penomoran
v) Cara/Gaya penyampaiaan















BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
Berdasarkan perkembangan bahasa Indonesia akhir-akhir ini, istilah penyuntingan disepadankan dengan kata inggris “ editor “ atau “ redaktur . Kata yang pertama diturunkan dari bahasa latin “ editor, edi “ yang berarti menghasilkan atau mengeluarkan ke depan umum. Adapun kata yang ke dua juga dijabarkan dari perkataan latin “ redigore “ yang bermakna membawa kembali lagi. Kedua perkataan inggris tadi kemudian berkembang menjadi berarti, menyiapkan, menyeleksi dan dan menyesuaikan naskah orang lain untuk penerbitan, dengan catatan bahwa istilah editor lebih sering dipergunakan orang. Dengan demikian istilah penyuntingan yang kini di populerkan  di Indonesia merupakan istilah yang di selangkan dengan istilah redaksi. Istilah yang terakhir ini sebelumnya lebih sering di pakai orang berdasarkan hasil serapannya dari bahasa belanda “ Redactic”
      Tujuan Penyuntingan yang dilakukan oleh para penyunting adalah sebagai berikut.
   1. Untuk menjadikan taipskrip sebagai karya yang sempurna yang dapat dibaca dan dihayati dengan mudah oleh pembaca apabila diterbitkan kelak.
   2. Untuk memastikan isi dan fakta taipskrip berkenaan disampaikan dengan jelas, tepat, dan tidak bercanggah atau menyalahi agama, undang-undang, etika dan norma masyarakat.
   3. Untuk memastikan pengaliran atau penyebaran idea daripada penulis kepada pembaca dapat disampaikan dalam bahasa yang gramatis, jelas, indah dan menarik.
   4. Untuk menjadikan persembahan e-buku yang akan diterbitkan itu dapat menggambarkan nilai dan identiti karya itu sendiri sehingga dapat menarik minat pembaca.
   5. Menonjolkan identiti penerbit dengan memastikan e-buku itu menepati gaya penerbitan penerbit.
3.2  SARAN
Jurnalistik merupakan ilmu terapan yang bisa didapatkan secara otodidak, kursus, baca, dan latihan secara intensif. Namun jika hendak mendalaminya secara keilmuan/akademis, tentu saja harus masuk pendidikan formal. Dalam jurnalistik penyuntingan merupakan sebuah bagian atau proses dari terbitnya sebuah berita atau sebagainya. Dalam mendalami tentang dunia jurnalistik terutama penyuntingan, sangat dituntut pemahaman tentang penggunaan kaidah bahasa Indonesia. Karena hal ini akan menunjang profesionalisme seorang penyunting. Selain itu, pemahaman tentang teori atau ilmu tentang penyuntingan akan sangat bermanfaat.




















DAFTAR PUSTAKA
Eneste, Pamusuk. 2005. Buku Pintar Penyuntingan Naskah. Jakarta : Gramedia pustaka utama

      Bintang, Putri.2007. Seluk Beluk Jurnalisme di Indonesia.. http://angeliadewicandra.blogsome.com/feed/. (diakses pada tanggal 5 Maret 2008)
Dana, Davida Welni.2008. Seputar Penyuntingan Naskah. http://www.sabda.org/pelitaku/seputar_penyuntingan_naskah. (diakses pada tanggal 5 Maret 2008)
Sulistyono,Arif Gunawan.2007. Edit dan sunting. http://mywritingblogs.com/jurnalisme/xmlrpc. (diakses pada tanggal 5 Maret 2008)














0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Dcreators